“Layangan Hampir Putus”, Prof. Tirka Bedah Perjalanan Hidup Jelang Usia 60 Tahun

IMG-20250612-WA0003
Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, SS., MBA., MM., M.Hum., berbagi kisah hidupnya menjelang usia 60 tahun.

Dokter Harga Mati

Era 1980-an, sebagian besar orangtua di Kabupaten Tabanan, hanya mengenal dua profesi yang paling keren, yakni dokter dan insinyur. Itu sebabnya, Wayan Kerata dan Ni Ketut Tirtawati mendoktrin anak kelimanya, Ni Putu Tirka Widanti, harus menjadi dokter. Harga mati. Tidak bisa ditawar!

Alur kehidupan Tirka Widanti berkata lain. Tidak seirama dengan keinginan orangtuanya. Meski dikenal berprestasi, Tirka Widanti gagal dalam seleksi masuk Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud).

Kecewa, sedih, minder campur jadi satu. Tirka Widanti merasa layangan cita-cita yang ia terbangkan hampir putus tali. Untungnya Tirka Widanti muda masih bisa berpikir sehat. 

Ia melampiaskan kekecewaannya dengan bekerja di sebuah hotel. Keputusannya didukung oleh iklim industri pariwisata di Bali sedang berkembang saat itu ditambah kemampuan bahasa Inggrisnya yang mumpuni.

Maklum sejak di bangku SMP, Tirka Widanti berhasil mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar dari Pemerintah Australia. Hubungannya dengan Negeri Kangguru itu pun berjalan hingga kini, sehingga Australia sudah seperti rumah keduanya. Karirnya di dunia hospitality berjalan mulus.

Kewajiban "menebus dosa" akibat tidak lulus fakultas kedokteran pun mulai dipikirkan. Ia mendaftarkan diri di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Warmadewa. Namun perjalanannya menggenggam gelar sarjana tidak semulus jalan hotmix. 

Tirka Widanti sempat terlena. Terlalu asyik bekerja, menikmati pundi-pundi rupiah hasil keringat sendiri. Bahkan ia memutuskan menikah di usia 22 tahun. Alhasil, kuliahnya pun terbengkalai. Padahal sudah memasuki semester akhir.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top