Tingkatan upacara, lanjut Wayan Mara, sesuai hasil paruman akan diambil tingkatan utama atau sawa preteka. Tak hanya ngaben, setangkaian upacara tersebut juga dilanjutkan dengan upacara atma wedana, metatah, mapetik hingga ngelinggihang Dewa Hyang.
"Melalui upacara yang lengkap ini kita sepakat untuk dikenai punia sebesar 8 juta per sawa untuk ngaben, dan 5 juta bagi yang ikut atma wedana dengan estimasi biaya sekitar 1,3 miliar," terang Mara yang juga seorang advokat, belum lama ini.
Tujuan yang lebih luas lagi dari ngaben massal ini, masih kata Wayan Mara, pertama, untuk mempersatukan dan mempererat pasemetonan, kedua, untuk meringankan beban krama dna efisiensi waktu, tenaga maupun biaya, serta persiapan upakara juga dapat dibantu secara gotong royong diselesaikan bersama.
Lebih jauh disampaikan, bade yang digunakan pada puncak acara ngaben yaitu Bade Tumpang Sembilan dengan pamereman Singa. Semua sarana ini digarap semeton AGPAG.
Sampai saat ini, persiapan dari segi fisik bangunan, prasarana, banten maupun persiapan lainnya hampir semua rampung sekitar 90 persen, tinggal eksekusi pelaksanaan dan ada beberapa yang meski diselesaikan.
"Astungkara sudah berjalan selama enam bulan persiapan kami sejak bulan Januari krama tetap kompak, bahu-membahu secara sadar dan iklas hadir untuk ngayah baik yang ada di desa maupun krama yang ada di rantauan tetap meluangkan waktu," harapnya didampingi panglingsir dadia, seraya berpesan agar semangat ini bisa dijaga hingga puncak acara.
Wayan Mara juga berharap pelaksanaan upacara ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan. Bagaimana pelaksanaan nanti akan dijadikan acuan ke depan dan evaluasi-evaluasi guna semakin efisein dari segi biaya, waktu maupun tetap guyub dengan pasemetonan.










