Edhi melanjutkan, upaya memperluas akses pembelajaran kewirausahaan dilakukan dengan melibatkan guru sebagai motor penggerak. Guru akan mendapatkan pelatihan dan dukungan untuk mengintegrasikan modul kewirausahaan ke dalam kelas.
Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas guru dalam menerapkan pembelajaran kewirausahaan yang kontekstual sekaligus memastikan keberlanjutan melalui adopsi jangka panjang di sekolah.
Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia, menambahkan, setiap saat pihaknya diingatkan akan potensi besar yang dimiliki generasi muda untuk bermimpi dan mewujudkannya.
Menurut Adriana, yang mereka butuhkan adalah pelatihan yang relevan dan akses yang setara terhadap peluang.
"Dengan menggandeng berbagai sektor, kami menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan membangun ekosistem untuk mendukung generasi muda mencapai potensi mereka," ujar Adriana.
Melalui ZEP fase kedua, pihaknya ingin membuka lebih banyak pintu bagi siswa untuk belajar, mencoba, dan berani menciptakan peluang. "Inilah cara kami mewujudkan komitmen Z Zurich Foundation: membangun kesetaraan sosial melalui pendidikan dan bekerja erat dengan generasi muda itu sendiri untuk membangun masa depan yang lebih cerah," urainya.
Partisipasi sukarelawan Zurich Indonesia menjadi elemen penting dalam memperkuat dampak program. Melalui peran sebagai mentor, mereka berbagi pengalaman profesional yang relevan dengan tantangan masa kini. Keterlibatan ini menghubungkan siswa dengan dunia kerja yang sesungguhnya, sehingga pengalaman yang mereka peroleh menjadi lebih inklusif, inspiratif, dan berkelanjutan.










