Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa Lanjutkan Program Pawintenan Massal

YSCB 2-a776d9b1

Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirthi (tengah).

Ida Dukuh menegaskan, makna pawintenan adalah sebuah proses penyucian jasmani dan rohani atau lahir dan batin. Harapannya dengan diwinten akan meningkatkan kecerdasan dengan diikuti upaya belajar dengan baik. “Kalau jadi pemangku, belajar yang baik sesananing pemangku. Demikian pula kalau menjadi undagi, serati, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Ida Dukuh menambahkan, tentu ada sejumlah tantangan bagi mereka yang sudah mawinten. Dalam sastra disebutkan, bagaimana seorang yang telah diwinten untuk mampu mengendalikan emosi. “Jadi, pawintenan ini untuk mengikat agar kita punya sebuah kesadaran untuk tidak emosi. Itu salah satunya,” imbuhnya.

Pawintenan massal yang diselenggarakan YPSCB mendapat apresiasi dari Kementerian Agama (Kemenag) dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Baik Kemenag maupun PHDI berharap pelaksanaan upacara seperti ini maupun kegiatan pembinaan keagamaan Hindu lainnya, digelar secara berkesinambungan untuk mewujudkan masyarakat Hindu yang bahagia dan sejahtera.

“Program ini sangat baik, dan kami di Kementerian Agama sangat mendukung sebagai upaya untuk membantu umat dalam meningkatkan kesucian lahir dan batin. Harapan kami agar semua yang diwinten ini benar-benar dapat melaksanakan peningkatan pengetahuan tentang agama dan meningkatkan kesucian diri,” ucap Kepala kantor Kemenag Kota Denpasar, Ida Bagus Ketut Rimbawan.

Hal senada disampaikan Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak. Dalam kesempatan itu, dia menegaskan, pawintenan harus dilakukan oleh seorang pandita putus (sulinggih). Dengan mawinten, diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesucian diri. “Jangan sampai acara ini sampai di sini saja. Harus berkesinambungan. Di samping mengadakan pawintenan, juga memberikan pemahaman kepada umat tentang tatwa, susila, upacara,” kata Nyoman Kenak. (rl)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top