dr Sumardi menuturkan, sebelumnya diketahui bahwa virus corona menular melalui droplet atau percikan orang yang terinfeksi dan dapat menempel pada permukaan kulit serta benda mati, namun ada perbedaan signifikan antara penularan airborne dan penularan droplet. "Perbedaannya, penularan melalui udara dapat terjadi pada jarak lebih dari satu meter, sedangkan penularan melalui percikan dapat terjadi pada jarak kurang dari satu meter," katanya.
Selain itu, airborne bertahan lama di udara, sedangkan droplet tidak bertahan lama di udara. Perbedaan signifikan tersebut membawa implikasi yang berbeda terhadap cara pencegahan dan pengendalian Covid-19. Kemungkinan penularan melalui udara bisa terjadi, terutama pada suatu ruangan yang tertutup, dan juga pada ruangan yang ventilasinya kurang baik.
"Hingga sampai saat ini belum ada statement yang menyatakan bahwa penularan airborne bisa terjadi di semua tempat. Artinya, penularan airborne sejauh ini dimungkinkan terjadi pada ruangan tertutup, dan pada ruangan dengan ventilasi kurang baik," imbuhnya.
Untuk mencegah penyebaran virus corona semakin meluas, pihaknya mengingatkan masyarakat, terutama yang mulai beraktivitas normal di luar rumah agar mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan.
"Pertama, tetap menggunakan masker, meskipun di dalam perkantoran. Karena masker merupakan salah satu upaya untuk mencegah agar virus tidak masuk. Kedua, tetap menjaga jarak. Ketiga harus rajin mencuci tangan, karena tangan kita juga media penularan," terang dr Sumardi.










