"Dengan pengkajian Tika ini, kami harapkan nantinya akan menjadi sumber informasi bagi masyarakat. Apalagi setelah disusun dalam bentuk buku yang disebarkan ke kabupaten/kota se-Bali, maka makin banyak yang masyarakat yang mengetahuinya.
Lewat pengkajian dan penelitian Tika, menurut Sedana, sekaligus sebagai salah satu upaya agar kebudayaan Bali tidak mudah tercerabut atau tergerus di tengah era globalisasi yang telah masuk dalam berbagai sektor kehidupan manusia.
"Sebelum ada kalender seperti saat ini, dulu para sulinggih (pendeta Hindu) menentukan hari baik untuk melaksanakan ritual upacara dengan Tika ini," ucapnya.
Tim pengkaji dan peneliti "Tika" tersebut terdiri dari unsur sulinggih dan akademisi yang memang merupakan praktisi wariga yakni Ida Pedanda Putra Tembau, Ida Pedanda Wayahan Tianyar, Ida Pedanda Putra Bajing, Ida Bagus Kade Suarioka (dosen Fakultas Ilmu Agama Unhi Denpasar), I Gede Maryana, I Gusti Ngurah Tara Wiguna (dosen arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Unud).
Sementara itu Ida Pedanda Putra Tembau dan Ida Putra Bajing menyambut baik langkah penelitian dan pengkajian Tika tersebut, di tengah era globalisasi yang tidak bisa dihindari ini. (gde)










