Di tengah gencarnya pemerintah daerah menggaungkan endek Bali hingga ke mancanegara, disertai kewajiban memakai endek tiap Selasa dan kegiatan tertentu, maka atmosfer UMKM endek mesti didukung semua pihak.
Ia melihat, perajin endek minim regenerasi. Kebanyakan generasi muda enggan menjadi penenun karena berbagai faktor, terutama tidak sebandingnya upah dengan beban pekerjaan.
"Saya amati, para penenun endek (di Klungkung-red) kebanyakan menjadikan tenun sebagai pekerjaan sambilan di rumah. Usia mereka pun relatif sudah tua," jelasnya.
Prof. Dayu Martini berharap, para penenun tradisional tetap konsisten menjaga produktivitasnya. Sebab, menurutnya, yang asli pasti dicari oleh orang-orang berkelas. "Yang penting konsisten. Saya yakin endek asli punya pasarnya sendiri biar pun harga lebih mahal," kata dia.
Ketua Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas) Dr. AA Ngurah Eddy Supriyadinata Gorda, telah menyiapkan 'kado' bagi Prof. Dayu Martini sebagai ungkapan selamat. 'Kado' tidak hanya diberikan untuk Prof. Dayu Martini tapi semua insan berprestasi di lingkungan Perdiknas.
"Semua yang ada di dalam keluarga besar Perdiknas, selaku yayasan penyelenggara pendidikan di SMP Nasional, SMK Teknologi Nasional dan Undiknas termasuk Pascasarjana akan mendapatkan hak yang sama sesuai porsinya. Mereka adalah aset lembaga," kata Gung Eddy. (Gde)










