Bali hanya memiliki daya kreatif dibidang kebudayaan, sehingga budaya mesti semakin kuat dan maju. Karena itu saja kekayaan Bali, sehingga wajib untuk dilestarikan untuk mengajegkan Bali. UDG ini sebagai usaha untuk membumikan bahasa dan sastra Bali melalui gegitaan dan matembang. “Tantangan terhadap bahasa dan dharmagita begitu besar, masukan dari luar tak bisa dibendung. Makanya saya bilang, Kebudayaan Bali tak dalam keadaan baik-baik saja, tetapi masih dalam perjuangan biar kita bisa maju,” ujar tokoh budaya asal Tabanan ini.
Sebagai tantangan serius lagi, yakni perhelatan UDG tingkat nasional pada tahun 2024. Bali, pasti mengikuti UDG yang akan digelar di Kota Solo itu. Bali selalu tampil sebagai juara I pada UDG tingkat nasional dalam setiap tiga tahun. Maka itu, mesti semangat terus dalam mengikuti ajang tersebut. Persiapan mesti dilakukan dengan baik, sehingga Bali kembali meraih juara I di UDG tahun 2024 nanti,” ucapnya serius.
Ketua Widyasaba Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Surada mengaku bahagia karena UDG XXXI ini bisa berjalan lancar. Sebelumnya, dengan semangat Kadisbud Prof. Arya maka UDG XXXI ini bisa berjalan lancar. Mulai dari melakukan sosialisasi ke kabupaten dan kota. Walau demikian, Kabupaten Buleleng absen dalam perhelatan ini. “Kami sudah bersurat untuk mengikuti UDG ini, namun tak ada balasan,” sebutnya.
Pelaksanaan UDG XXXI selama 4 hari itu sudah berjalan sesuai format yang direncanakan dari awal. Apalagi, ada materi baru yakni Dharmawiwada, debat keagamaan yang diikuti oleh generasi muda ini luar biasa. “Saya berharap ini diinformasikan karena Dharmawiwada ini dapat memberikan manfaat luar biasa kepada generasi. Disitu ada yang pro dan yang kontra tang mesti dipertahankan. Karena itu, para peserta dituntut untuk belajar, sehingga dapat unuk melatih generasi muda kedepan agar lebih cerdas,” ujarnya.










