Tutur Ayu, Refleksi Pengabdian Tanpa Batas Tiga Maestro Pendidik di Santrian Gallery

WhatsApp-Image-2026-03-06-at-21.21.38
Salah satu pengunjung melihat pameran bertajuk "Tutur Ayu" di Santrian Gallery.

DENPASAR-fajarbali.com | Masa pensiun bagi seorang pendidik bukanlah titik henti untuk berbagi ilmu, melainkan sebuah transformasi media dalam menyebarkan kebajikan. Semangat inilah yang melandasi Kelompok Soko Guru, yang beranggotakan tiga perupa sekaligus pendidik senior—I Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha—dalam menggelar pameran bertajuk "Tutur Ayu". Bertempat di Santrian Gallery, pameran ini resmi dibuka pada Jumat malam (6/3/2026) oleh tokoh pemerhati seni Bali, Putri Suastini Koster.

Pameran ini menjadi panggung bagi 18 karya lukisan yang merangkum perjalanan sunyi pengabdian ketiga seniman tersebut. Mengusung nama "Soko Guru" yang berarti tiang penyangga utama, kelompok ini memposisikan diri sebagai fondasi pengetahuan yang tetap tegak meski telah purna tugas dari institusi formal. Melalui sapuan kuas dan komposisi warna, mereka membuktikan bahwa swadarma atau kewajiban mendidik kini berpindah dari ruang kelas menuju ruang publik yang lebih luas.

"Tutur Ayu" dipilih sebagai judul besar yang mengandung makna filosofis mendalam. Istilah ini merujuk pada pesan-pesan moral dan petuah bijak yang dikemas dalam estetika visual yang indah. Di tengah derasnya arus modernisasi, pameran ini hadir sebagai pengingat bagi generasi muda bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal Bali harus tetap dirawat agar tidak luruh ditelan zaman.

I Ketut Marra, salah satu peserta pameran, menampilkan kematangan artistik melalui eksplorasi berbagai media dan teknik. Dikenal sebagai sosok yang disegani berkat keterampilannya dalam seni lukis dan grafis, karya-karya Marra kali ini tidak sekadar menyalin realitas alam Bali. Ia menyelipkan refleksi kritis tentang godaan hidup dan kompleksitas sosial-budaya, menjadikan elemen rupa seperti garis dan tekstur sebagai bahasa untuk menggali kedalaman batin manusia.

Berbeda dengan Marra, I Wayan Santrayana membawa gaya deformatif yang telah menjadi ciri khasnya sejak awal berkarier. Lewat figur-figur yang terdistorsi namun ekspresif, Santrayana menyuarakan kegelisahannya terhadap dinamika hubungan manusia dengan ekologi. Karyanya seolah mengajak penonton untuk merenung sejenak tentang bagaimana manusia hari ini memperlakukan alam dan merespons perubahan sosial yang kian cepat.

BACA JUGA:  Penjor Agung ‘Menantang’ Langit di Pura Ulun Danu Batur

Sementara itu, I Gede Budiartha memilih jalur abstraksi untuk menyentuh aspek "rasa" dalam kemanusiaan. Meski tampak abstrak secara komposisional, karyanya tetap menyisakan jejak objek yang dapat dikenali melalui permainan warna dan gestural yang kuat. Bagi Budiartha, seni adalah medium untuk menyusuri ceruk terdalam kehidupan, di mana emosi dan jiwa luruh dalam penghayatan visual yang jujur dan berkarakter.

Penulis pameran, I Made Susanta Dwitanaya, menyoroti bahwa pameran ini adalah sebuah pernyataan artistik bahwa seni adalah bahasa yang tak pernah mengenal kata pensiun. Dedikasi ketiga guru ini dalam mengajarkan pengetahuan selama puluhan tahun kini terdistilasi menjadi karya seni yang sarat dengan muatan edukatif. Hal ini menegaskan posisi seniman bukan sekadar pembuat objek indah, melainkan penjaga rasa dan moralitas masyarakat.

Pembukaan pameran yang berlangsung pukul 18.00 WITA tersebut menarik perhatian kalangan budayawan, kolektor, dan pencinta seni. Kehadiran Putri Suastini Koster sebagai pembuka pameran memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi para pensiunan pendidik ini. Menurutnya, karya-karya yang ditampilkan mencerminkan kematangan batin yang hanya bisa dicapai melalui pengalaman hidup dan ketulusan dalam berkarya.

Secara keseluruhan, "Tutur Ayu" bukan hanya sekadar pameran visual, melainkan ruang perenungan kolektif. Setiap lukisan yang dipajang di dinding galeri membawa misi untuk menyalakan api kebijaksanaan bagi generasi mendatang. Di tangan para guru ini, "tutur" atau ucapan itu tetap "ayu" (cantik/baik), memberikan harapan bahwa nilai-nilai luhur Bali akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup.

Pameran ini akan berlangsung selama hampir dua bulan, mulai dari 6 Maret hingga 30 April 2026. Publik diundang untuk hadir dan menyimak bagaimana 18 karya ini berbicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui perspektif para pendidik yang telah tuntas dengan dirinya sendiri. Santrian Gallery sekali lagi menjadi saksi bahwa seni adalah jembatan abadi bagi pengabdian manusia. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top