Kadis Dody membandingkan dengan Desa Jatiluwih Tabanan yang satu kawasan dengan dua pos tiket, jadinya mudah menghitung kunjungan wisatawan. Kalau di tiga desa wisata di Buleleng ini, tidak ada berbayar masuk ke desanya.”Bagi wisatawan kalau masuk entry saja tidak berbayar. Mungkin ini karena Jatiluwih kan begitu masuk ke desanya dia sudah mendapatkan benefit dari apa yang dia bayar. Mendapatkan sebuah pemandangan sawah terasering yang luar biasa, kemudian bisa menjadi satu kawasan. Itu mudah untuk menghitung,”ucapnya.
Lebih lanjut Kadis Dody menggambarkan, dalam pengumpulan data kunjungan misalnya di Desa Pemuteran, wisatawan yang masuk untuk diving atau snorkelling dan obyek wisata Biorock ataupun yang menyeberang ke Pulau Menjangan yang mencatatnya masih secara konvensional.”Kita sudah usulkan di dalam revisi Perda pajak distribusi daerah. Bahwa di Pantai Tanjung Budaya dan Biorock itu diusulkan untuk menjadi daya tarik wisata dengan berbayar melalui post ticketing sehingga dari situ kita bisa menghitung yang masuk secara digital dengan alat e-post. Begitu juga DTW lainnya,”tambah Doddy.
Dipengujung pihaknya berharap, mudah-mudahan nanti ada salah satu dari desa wisata kita yang berhasil ditetapkan sebagai Best Tourism Village 2025.”Tentunya ini menjadi bahan evaluasi kita. Nah dengan guidance form itu ternyata kita diajari mengidentifikasi diri kita dengan baik. Mengidentifikasi potensi desa wisata dengan baik, sehingga ini menjadi ruang untuk bisa berusaha bersama menuju pengelolaan yang lebih baik lagi ke depannya,”tutupnya. @gus










