Terserang DB, Perawat RS Pratama Nusa Penida Meninggal

Kasus Demam Bedarah (DB) kembali merebak. Senin (1/1/2018) malam seorang perawat di Rumah Sakit Pratama Nusa Penida menjadi korban gigitan nyamuk Aides Agypty tersebut. I Wayan Riada (24) warga Dusun Semaya, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida meninggal hanya beberapa jam setelah dirujuk ke UDG RSUD Klungkung.

SEMARAPURA-fajarbali.com | Kerabat korban, Wayan Sukadana menuturkan sebelum dirujuk ke RSUD Klungkung, Alm.Riada sudah sakit sejak 7 hari lalu. Hanya saja tidak disadari, bahwa dirinya menderita DB. Setelah makin parah, barulah sulung dari dua bersaudara tersebut menjalani perawatan di RS Pratama Nusa Penida. Tiga hari dirawat, kondisi pemuda yang baru beberapa bulan direkrut sebagai tenaga kontrak Pemkab Klungkung ini memburuk. Oleh karena itu, Senin (1/1) siang ia dirujuk ke RSUD Klungkung.

“Kemarin (Senin) kondisinya memburuk sehingga dirujuk ke RSUD Klungkung. Saat dirujuk jam 1 siang kondisinya sudah kritis. Ia sempat dirawat di UGD RSUD Klungkung tapi diinfokan meninggal jam 8 malam,” ujar Sukadana. Lebih lanjut disampaikan, untuk saat ini di Dusun Semaya memang banyak warga yang mengalami sakit panas. Beberapa sudah berobat dan dinyatakan sembuh. Hanya Alm. Riada yang dinyatakan DB setelah menjalani pemeriksaan darah.

Direktur RSUD Klungkung, dr. I Nyoman Kesuma saat dikonfirmasi menegaskan, Alm. Riada meninggal karena suspek DB. Pasien sebelumnya dirujuk dari RS Pratama Nusa Penida. Namun, hanya sempat menjalani pemeriksaan darah di UGD, pasien sudah kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia. “Pasien masuk UGD sore, belum sempat diperiksa apa-apa sudah kejang-kejang. Baru periksa darah saja. Ia meninggal di UGD, belum sempat dirawat baru ambil darah saja,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung, dr. Made Adi Swapatni menyampaikan, jajaranya sudah menyikapi permasalahan ini. Ia sudah menugaskan tim untuk turun ke lokasi melakukan pengecekan. Dirinya pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap penyakit Demam Berdarah. Apalagi sekarang sudah memasukin musim penghujan. Mantan Direktur RSUD Klungkung ini mengimbuhkan, tak banyak pasien DB yang meninggal di Klungkung. Apalagi dari data, jumlah kasus DB sepanjang tahun 2017 mengalami penurunan yang signifikan. Dari angka 900an di tahun 2016, menjadi 210 pada tahun 2017. Oleh karena itu.

“Demam Berdarah memang harus  diwaspadai karena memang endemik. Begitu lengah terhadap lingkungan, pasti muncul. Jadi pemantauan jentik harus terus dilakukan. Kami harap Jumantik tetap bergerak, apalagi sekarang lagi hujan lagi terang memang sangat berisiko,” paparnya.

Masih diselimuti duka, keluarga Alm. Riada kembali memperoleh ujian. Kerabat korban, Wayan Sukadana mengatakan proses pengiriman jenazah dari RSUD Klungkung ke Nusa Penida sangat sulit. Lantaran saat ini tak banyak boat yang bersedia menyebrangkan jenazah. Hanya boat-boat tua, dan itupun harus disewa khusus.

Sukadana menyampaikan, untuk menyeberangkan jenazah Alm Riada, ia dan kerabat harus menyewa boat di dekat Pelabuhan Padang Bai. Sebab kapal Roro milik Pemkab sedang tak beroperasi. Hanya di lokasi itu ada boat yang mau menyeberangkan jenazah. Sedangkan di Pelabuhan Tradisional Kusamba, memang tidak diizinkan, karena aturan adat. Oleh karena itu, ia sangat khawatir, kelak bila boat-boat tua dan Roro tak beroperasi maka warga yang akan menyeberangkan jenazah ke Nusa Penida pasti sangat kesulitan. “Saya sudah beberapa kali menyeberangkan jenazah, selalu ribet seperti ini,” ujarnya sekaligus berharap pihak yang berwenang segera menyikapi permasalahan tersebut. (dia)

 Save as PDF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ratusan Pengungsi Gunung Agung Kembali ke KRB

Sel Jan 2 , 2018
Berbulan-bulan meninggalkan kampung halaman, pengungsi Gunung Agung di Kabupaten Klungkung mulai dilanda jenuh. Selasa (2/1/2018) ratusan warga Kabupaten Karangasem tersebut nekat kembali ke rumah masing-masing.  Save as PDF

Berita Lainnya