Terlepas dari itu, lanjut dia, untuk upaya pemasaran, memasuki bulan September setelah dibukanya kembali kunjungan untuk wisatawan mancanegara sesuai rencana pihaknya akan kembali menggencarkan promosi. “Sesuai yang direncanakan, pertama akan kita lakukan penerapan protocol Kesehatan dan promosi-promosi akan ditingkatkan. Teman-teman kita, termask pegawai akan kita aktifkan untuk bersama-sama mempromosikan obyek-obyek yang sudah ada maupun yang akan dikembangkan baik lewat media maupun medsos,” jelasnya. Dalam hal ini, promosi pariwisata akan menyasar baik di dalam daerah maupun tingkat nasional. “Semoga itu bisa kita lakukan,meski dalam keterbatasan anggaran karena kondisi Covid saat ini,” harap Wiradana.
Disamping itu, pihaknya juga mengaku akan berupaya menggelar festival pariwisata untuk mendukung pemulihan pariwisata Bangli. “Termasuk melakukan promosi melalui penyebaran pamplet-pamplet, spanduk dan akan mengaktifkan kembali web yang telah dimiliki Disparbud. Kita akan perbanyak konten-konten yang akan diaploud ke medsos dan web. Kita juga akan adakan komunikasi dengan para steakholder terutama mitra kerja kita, baik Asita, PHRI, HPI dan lainnya,” bebernya.
Meski demikian, untuk optimalnya kegiatan tersebut pihaknya masih terkendala minimnya anggaran yang ada karena turut dirasionalisasi untuk penanggulangan Covid-19. Sebab, awalnya pihaknya mengusulkan anggaran dikisaran Rp 1 miliar yang bersumber dari PAD dan DAK non fisik dari Pusat untuk menjalankan seluruh kegiatan dibidang pemasaran. “Untuk dibidang saya saja, anggaran yang ada sekitar Rp 500 juta. Itu pun termasuk lomba jegeg bagus dan sumber dananya tidak semua dari PAD namun sebagian juga dari dana non fisik yang diberikan Pemerintah Pusat,” sebutnya. Karena itu, untuk sementara ditekankan kembali yang bisa dilakukan yakni promosi melalui web dan medsos. “Ini harus jalan untuk promosi kita dan ada juga kegiatan pembinaan yang sumber anggarannya dari Pusat. Setidaknya ada tiga kegiatan yang rencananya akan kita lakukan dari September nanti. Itu pun, kalau protocol Kesehatan sudah bisa dilakukan,” ungkap Wiradana. Sebab, idealnya untuk pemulihan kembali pariwisata dalam kondisi saat ini memerlukan anggaran yang cukup besar. (arw)










