Pada kesempatan yang sama, Founder sekaligus Creative Designer Tulola Sri Luce, menambahkan, kolaborasinya bersama Auguste adalah upaya mentransendensi warisan nenek moyang menjadi sebuah karya kontemporer di bidang mode, yakni busana dan perhiasan yang tetap bernafaskan Nusantara.
"Kolaborasi yang kami lakukan adalah sebuah jalinan yang saling melengkapi, dimana Auguste mengedepankan desain yang berstruktur dan saya mengisyaratkan pola desain yang menopang," jelas Sri.
Karya Tulola yang masuk koleksi “The Dancer” dibuat bekerja sama dengan BCA, khususnya salah satu desa mitra Bakti BCA yakni Desa Wisata Taro Gianyar. Salah satu jenis produk unik hasil karya Desa Wisata Taro adalah perhiasan silver, solid gold, serta keris.
Menurut perajin dari Desa Wisata Taro I Made Suama, pihaknya turut berkontribusi membuatkan desain untuk 3 jenis perhiasan koleksi “The Dancer”, yaitu: Bros Kipas, Bros Ukiran, dan Sumpel Bunga. Ketiganya akan ditampilkan pada acara ini, dan dapat dibeli dengan sistem pre-order.
Sementara EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan pihaknya menyadari pentingnya peran usaha lokal dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Melalui kerja sama ini, ia berharap dapat membantu pelaku usaha seperti Tulola dalam mendorong inovasi dan memperkuat bisnisnya, sekaligus menggerakkan roda perekonomian nasional.
“Sejalan dengan komitmen BCA, di bawah payung Bakti BCA, kami senantiasa berperan aktif dalam mendorong usaha lokal untuk tumbuh dan melestarikan seni budaya.Kami percaya bahwa pelaku industri fesyen lokal seperti Tulola memiliki potensi besar untuk menjadi episentrum ekonomi kreatif dan motor penggerak dalam meningkatkan kecintaan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap kekayaan dan identitas budaya Nusantara,” ujar Hera.










