"Surya Paloh kita daulatkan sebagai tokoh yang pertama menyampaikan harapannya, menulis tangan, lalu memasukan ke dalam kotak harapan. Surya Paloh memasukan tulisan harapannya terhadap Mantra Kerta sebagai wakil dari tokoh nasional dan dunia. Karena Bali ini bukan hanya milik Bali saja, tetapi milik Indonesia dan dunia. Jadi apa harapan Indonesia dan dunia terhadap Mantra-Kerta akan diisi dalam kotak Mantra-Kerta Menjemput Harapan," papar dia. Seluruh tulisan rakyat itu akan dikumpulkan, dirangkum oleh tim ahli, dibukukan, dan diserahkan pada Mantra-Kerta pada saat debat terakhir.
Rangkaian acara lain adalah penglukatan bumi. Melukat artinya meruwat. Air yang digunakan berasarl dari mata air yang ada di 716 desa di Bali. "Kita ambil langsung dari mata air dari seluruh desa di Bali. Kita kumpulkan dalam sebuah kendi yang besar. Dari seluruh desa di Bali, air itu kita tumpahkan di ibukota provinsi di Denpasar, dan dari sinilah mengalirlah kesejahteran ke seluruh Bali.
Ini diambil dari mata air asli yang keluar dari bumi dari 716 desa di Bali, bukan diambil dari air PAM," ujarnya. Maknanya adalah bahwa politik itu tidak berhenti pada merebut kekuasaan, tetapi harus dilanjutkan dengan mensejahterakan rakyat dalam berbagai bidang kehidupan. Makanya dia berasal dari desa, dikumpulkan menjadi satu, menjadi sebuah kekuatan dan kemudian dia mengalir ke seluruh Bali dengan kekuatan yang utuh.










