”Disamping iklim yang cocok kami juga harus melakukan perawatan terhadap pohon Bekul seperti melakukan pemupukan sehingga kedepannya menghasilkan hasil pertanian yang sangat memuaskan,” jelasnya.
Disinggung terkait teknis pembudidayaan, Budiasa mengaku jika buah Bekul ini merupakan hasil penyambungan tunas. Yakni antara tunas buah bekul lokal kecil sebagai batang bawah dengan buah bekul lokal besar untuk batang atas.
Sebab Bekul lokal dengan ciri buah yang cenderung kecil namun berbuah lebat. Sedangkan, Bekul besar diketahui unggul dari ukuran buah dan rasa namun jarang berbuah. Sehingga tanaman bekul yang dibudidayakan saat ini merupakan hasil dari sistem sambung sehingga menghasilkan buah yang besar dan unggul serta mampu berbuah lebat.
”Kalau penangkaran bibit sudah ada yang menangani di kawasan Buleleng Timur,” ujarnya.
Bila dibandingkan dengan tahun lalu dalam sebulan Budiasa mampu menjual hingga 400 kg. Sedangkan tahun ini mengalami peningkatan. Dalam sebulan Budiasa mampu memanen mencapai 450 hingga 500 kg per bulannya. Atau setara dengan 15 hingga 20 kg per hari.
Menariknya, pemasaran buah bekul ini semakin luas. Buah ini tidak hanya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan pasar buah di pasar tradisonal hingga modern di Buleleng, Denpasar dan Karangasem. Tetapi juga tembus sampai pasar nasional seperti Jakarta dan Surabaya.
Budiasa mengklasifikasikan buah Bekul terdiri dari tiga macam. Diantaranya Bekul super, sedang dan campuran. Ketiga jenis tersebut dibedakan dari ukuran buah.










