Kemudian faktor sinyal juga berpengaruh besar. Ini dibuktikan dari nominal punia yang masuk dari QRIS di pura yang berada di pusat kota lebih besar di banding pura yang terletak di kawasan susah sinyal, meskipun pura tersebut berstatus Sad Kahyangan Jagat, seperti Pura Agung Besakih.
"Misalnya di Pura Candi Narmada Tanah Kilap Denpasar, punia dari QRIS bisa puluhan juta. Meski lebih banyak jumlah tunai. Beda dengan di Besakih, meski pura besar, tapi diduga faktor sinyal yang menghambat pamedek penggunaan QRIS," jelasnya.
Ia berharap, sosialisasi penggunaan QRIS untuk berdana punia lebih digaungkan lagi, untuk menciptakan tata kelola keuangan pura yang lebih transparan dan akuntabel. Ia kembali menegaskan bahwa ber-punia lewat QRIS sama sekali tidak mengurangi esensi beryadnya.
Namun, ia menyarankan, misalnya saat piodalan, pamedek yang menghaturkan punia lewat QRIS agar dicatat, lalu diumumkan lewat pengeras suara, sama dengan punia uang tunai.
Sebab karakteristik pamadek berbeda-beda. "Siapa tahu ada yang suka kalau namanya dibacakan di depan umum. Itu bisa saja menjadi gengsi tersendiri," tambah Dr. Mita.
Namun dengan semakin meningkatnya umat yang terhubung dengan internet, ia optimistis lambat laun umat Hindu semakin terbiasa menggunakan model pembayaran digital di setiap upacara yadnya.
Diketahui, Mita memulai studi Doktoral/S3 pada Prodi Doktor Manajemen FEB Unud tahun 2022. S1 dan S2 ditempuh di kampus yang sama. Dr. Mita berprofesi sebagai dosen di FEB Unud. Sebelumnya dia pernah mengabdi di Fakultas Ekonomi Bisnis dan Pariwisata (FEBP), Universitas Hindu Indonesia (Unhi).











