Di Subak Stage, Astrid Sulaiman bersama Soukma dan Doni Wirandana menyajikan komposisi pribadi dan lagu daerah Indonesia dalam nuansa jazz harmonis. Bojan Cvetković Quartet (Serbia) menambahkan sentuhan Balkan, dan Gayatri Quartet menutup hari pertama dengan perpaduan standar jazz dan pop-soul, menciptakan perjalanan musik yang dinamis di tengah panorama alam Ubud.
Malam kedua UVJF 2025 tak kalah memukau, menjadi puncak perayaan musik lintas benua di jantung Lodtunduh. Festival dua hari ini memikat penikmat musik dengan sajian jazz berkelas dunia dalam suasana yang meriah namun tetap intim. Fokus pada dua panggung utama, Giri Stage yang megah dan Subak Stage yang intim di tepi sungai, menciptakan pengalaman mendengarkan yang nyaris magis.
Penampilan hari kedua dimulai dengan Dizzy & Wicked yang memanaskan suasana dengan electro-jazz modern, diikuti East West European Jazz Orchestra yang mengubah Giri Stage menjadi pesta swing dan funk lintas benua. Balawan Trio feat. Jiyestha memukau dengan perpaduan jazz fusion dan gamelan Bali, sementara ROUGE dari Prancis menghadirkan nuansa lirikal yang emosional.
Jazz Traveller membangkitkan kembali energi bossa dan swing klasik, berlanjut ke penampilan Makoto Kuriya Trio dari Jepang yang menghipnotis penonton dengan jazz-fusion lintas generasi. Malam ditutup dengan sentuhan intim dari Mahanada di Subak Stage dan dentuman besar Galaxy Big Band di Giri Stage, mengakhiri festival dengan energi yang membuncah.
Lebih dari sekadar musik, UVJF tahun ini juga mengintegrasikan arsitektur artistik dan kesadaran ekologi. Instalasi layangan raksasa seperti Janggan, Wayang, dan Barong yang dipajang di area festival menjembatani tradisi Bali dengan atmosfer jazz yang bebas. Komitmen terhadap keberlanjutan ditunjukkan melalui sistem gelas deposit, menjaga kebersihan area festival dari sampah plastik.










