SMP PGRI 1 Denpasar Wadahi Kreativitas Murid dalam “Grissa Kesanga Festival 2026” 

IMG-20260314-WA0004
Grissa Kesanga Festival 2026 menjadi ruang ekspresi budaya bagi siswa SMP PGRI 1 Denpasar menjelang Nyepi.

DENPASAR-fajarbali.com | Semangat budaya dan pendidikan berpadu dalam Grissa Kesanga Festival 2026 yang digelar SMP PGRI 1 Denpasar bertepatan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948. Festival ini menjadi ruang belajar yang berbeda bagi siswa bukan hanya melalui buku dan kelas, tetapi melalui pengalaman budaya yang hidup.

Kegiatan kokurikuler berbasis kearifan lokal ini menghadirkan berbagai ekspresi seni budaya, mulai dari pementasan fragmentari hingga kreativitas pembuatan ogoh-ogoh oleh para siswa. Melalui proses tersebut, para pelajar diajak memahami nilai kebersamaan, gotong royong, toleransi, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Kepala SMP PGRI 1 Denpasar, I Nengah Sukama, S.Pd, MM mengapresiasi penuh pelaksanaan festival yang menurutnya menjadi ruang aktualisasi bagi kreativitas siswa sekaligus sarana menanamkan kecintaan terhadap budaya Bali.

“Kegiatan ini menunjukkan kreativitas siswa dalam karya seni budaya. Kolaborasi tim mereka luar biasa, dan pementasan yang ditampilkan mampu menggambarkan nilai-nilai kearifan lokal Bali,” ujarnya dalam memberikan sambutan, Kamis (12/3).

Ia menegaskan bahwa festival ini tidak sekadar rangkaian kegiatan menjelang Nyepi, tetapi telah berkembang menjadi media pendidikan karakter bagi generasi muda.

“Ini bukan hanya simbol ritual menjelang Nyepi. Festival ini menjadi media belajar dan ruang berekspresi bagi siswa. Budaya Bali akan tetap hidup selama generasinya mau menjaga dan mencintainya,” kata Sukama.

Koordinator kegiatan kokurikuler, I Ketut Suardana Artawan,  menjelaskan bahwa festival tersebut menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran yang memadukan pendidikan formal dengan praktik budaya.

Menurutnya, melalui kegiatan ini siswa tidak hanya menunjukkan kemampuan seni, tetapi juga belajar bekerja sama dan memahami nilai budaya yang diwariskan leluhur.

“Di sini proses belajar tidak berhenti di ruang kelas. Siswa belajar melalui pengalaman langsung, mulai dari merancang ogoh-ogoh, berlatih pementasan fragmentari, hingga bekerja sama dalam tim untuk menampilkan karya terbaik mereka,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah.

BACA JUGA:  Anggaran PKB "Dipangkas" Ratusan Juta, Disbud Khawatirkan Kesanggupan Sekaa untuk Tampil

Bagi para siswa, festival ini menjadi momen yang menyenangkan sekaligus bermakna. Tidak hanya menampilkan karya seni, kegiatan ini juga menggambarkan semangat gotong royong dan kebanggaan generasi muda terhadap tradisi.

Melalui Grissa Kesanga Festival, sekolah menunjukkan bahwa pendidikan dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Di tangan generasi muda, nilai-nilai tradisi tidak hanya dipelajari, tetapi juga dirawat dan dihidupkan kembali dalam ruang-ruang pendidikan.

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top