Pada kesempatan yang sama, KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memaparkan kesiapan TNI Angkatan Darat untuk mendukung program pemerintah dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk kepedulian TNI AD terhadap isu lingkungan hidup sekaligus mendorong kolaborasi berbasis masyarakat. “Jadi sampah yang ada akan diolah menjadi bahan bakar alternatif menjadi solar. Ini sebagai langkah inovatif dalam mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus mendukung ketahanan energi. Jadi pemerintah daerah menyiapkan lahan dan segala perizinannya, nanti kami dari TNI yang membantu menyiapkan fasilitasnya,” ucapnya.
Usai pembahasan di Kertha Sabha, rombongan bertolak meninjau langsung lokasi pembangunan PSEL Denpasar Raya di kawasan Benoa. Di lapangan, proses pengurugan dan pematangan lahan sudah mulai berjalan sebagai tahap awal pembangunan fisik fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Dimulainya aktivitas fisik ini menandai bahwa proyek PSEL Bali kini telah memasuki fase realisasi nyata, setelah sebelumnya melewati berbagai tahapan perencanaan panjang dan koordinasi lintas lembaga.
Sebagai informasi, PSEL Denpasar Raya dirancang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 6 hektare. Fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.200 ton sampah per hari, yang mengintegrasikan pengolahan sekitar 700 ton sampah dari Kota Denpasar dan 500 ton dari Kabupaten Badung.
Keberadaan PSEL ini diharapkan menjadi solusi konkret dan jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah di kawasan Sarbagita, sekaligus membawa Bali menuju sistem pengelolaan lingkungan yang modern, berkelanjutan, dan mandiri energi.










