"FTBI 2023 diisi dengan tujuh mata lomba tingkat SD dan SMP yang meliputi lomba Masatua, Mapidarta, Nyurat Aksara Bali, Ngawi dan Ngwacen Puisi Bali Anyar, Babanyolan Tunggal, Nyurat Cerpen Bali, dan Matembang Sekar Alit," urai kepala lembaga di bawah Kemendikbudristek itu.

Tiap-tiap lomba diikuti oleh 18 orang peserta putra putri yang berasal dari sembilan kabupaten/kota di Bali. Dari tiap-tiap lomba tersebut dipilih 6 pemenang kategori putra dan 6 pemenang kategori putri, masing-masing Juara I, II, III dan Harapan I, II, dan III.
"Peraih Juara I dari masing-masing mata lomba nantinya dapat mengikuti FTBI tingkat nasional yang akan dilaksanakan pada tahun depan," imbuh Valentina.
Valentina berharap FTBI dapat melahirkan tunas-tunas baru para penutur bahasa Bali. Menurutnya pengkaderan perlu terus dilakukan sebagai upaya pelestarian bahasa daerah.
Pada kesempatan yang sama, Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra menyampaikan pelestarian bahasa daerah merupakan upaya bersama melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, praktisi, hingga, masyarakat sebagai penutur dari bahasa daerah tersebut. Ia menuturkan bahasa daerah merupakan sarana atau media sebuah peradaban dapat diwariskan dan dilestarikan.
"Bahasa daerah adalah bahasa Ibu, sebagai bahasa pertama yang mengalir dalam aliran darah manusia, bahasa yang paling melekat dan menjadi ciri khas sebuah komunitas masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, rangkaian kegiatan RBD, mulai dari Rakor hingga FTBI telah dapat berjalan beriringan dengan program-program yang telah disusun oleh Pemerintah Provinsi Bali dalam pelestarian bahasa Bali.










