”Kami ingin menyampaikan pesan tentang pemuliaan terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Dalam konsep yang kami angkat, makhluk tidak kasat mata juga merupakan bagian dari ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang harus dihormati. Jadi esensinya adalah menjaga keharmonisan hubungan dengan seluruh ciptaan-Nya,” katanya.
Komunitas Seni Nyenit-Nyenir melibatkan sekitar 50 orang yang terdiri atas penabuh, penari, pembina, kru panggung hingga panitia pendukung. ”Kami berjumlah kurang lebih 50 orang. Persiapan sudah dilakukan sekitar lima bulan, dimulai sejak Februari. Seluruh anggota bekerja keras agar bisa memberikan penampilan terbaik sebagai Duta Kabupaten Badung,” ungkap Yudiarta.
Dalam pergelaran ini, pembinaan tabuh iringan tari dilakukan oleh I Wayan Sumayasa, sementara pembina Tabuh Klasik dan Kreasi dipercayakan kepada I Wayan Kartika. Keduanya berperan penting dalam proses penggarapan musik yang menjadi penguat karakter setiap karya yang ditampilkan.
I Wayan Sumayasa menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam proses kreatif terletak pada upaya menerjemahkan konsep yang bersifat abstrak ke dalam bentuk musik dan gerak tari yang harmonis.
”Tantangan terbesar adalah bagaimana mengemas konsep yang ingin disampaikan dalam karya ini. Kami membicarakan sesuatu yang tidak terlihat, sehingga proses menuangkan ide ke dalam iringan menjadi cukup sulit. Selain itu, dalam perjalanan latihan sering terjadi ketidakcocokan antara gerak tari dan iringan tabuh,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa proses penyempurnaan dilakukan berulang kali agar iringan dan gerak tari mampu menyatu secara utuh di atas panggung.










