Keputusannya memilih prodi pendidikan matematika ternyata relevan dengan cita-cita awalnya. Sebab, menurut Prinicila, matematika juga berkaitan dengan psikologi anak. Mengajar matematika memang membutuhkan kesabaran dan teknik khusus.
"Kalau saya biasanya menerapkan pembelajaran yang 'fun'. Seperti menyiapkan 'reward' kecil seperti permen. Yang penting anak-anak tertarik dulu," jelasnya.
Ia kerap menggunakan pendekatan yang menyenangkan, dikaitkan dengan kehidupan nyata, memberi tantangan yang sesuai, dan menumbuhkan pola pikir bertumbuh dengan tidak hanya memuji hasil tetapi juga proses dan usaha anak.
Prinicila sedapat mungkin menghindari menciptakan kecemasan dengan memberikan soal terlalu sulit atau mewariskan ketakutan. Teknik ini perlu didukung lingkungan belajar yang nyaman dan media menarik.
Ia juga menggunakan berbagai media seperti permainan untuk membuat matematika lebih menarik dan mudah dipahami, terutama bagi anak-anak usia dini yang sulit memproses hal abstrak.
Yang paling relevan bagi usia anak-anak, juga mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya menghitung uang, menimbang makanan, menghitung jarak saat bergerak dan sebagainya.
"Jadi kita sadarkan anak-anak bahwa mereka sudah menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidak perlu ditakuti," ungkapnya.
Prinicila berpandangan, setiap anak memiliki potensi masing-masing yang mesti didukung oleh orangtua dan pendidik. Ia sendiri merasakan pola asuh orangtuanya yang tidak pernah menuntut prestasi apapun, malah menjadi tantangan tersendiri baginya.










