Sumber mata air yang berada di kawasan Gunung Salak jumlahnya tidak sedikit. Setidaknya terdapat 12 mata air utama yang kini mulai diberi identitas jelas, yakni: Mata Air Mumbul, Keris, Sidhi Mala, Kelepud, Pasupati, Beji Sari, Memedi, Arjuna, Bidadari, Gemelem, Tista, dan Manunggal.
Seluruh mata air ini tidak hanya memiliki nilai sakral, namun juga menciptakan sebuah sistem spiritual yang menyatu dengan ekosistem alam dan tradisi desa.
Bagi masyarakat setempat, mata air adalah simbol kesucian sekaligus sumber kehidupan. Ritual melukat atau penyucian diri kerap dilakukan di titik-titik tertentu yang diyakini memiliki energi spiritual tinggi.
Tidak sedikit pula wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk melakukan yoga, meditasi, hingga retret spiritual di sekitar kawasan ini. Fenomena ini sejalan dengan tren pariwisata spiritual dan wellness tourism yang kian meningkat di Bali, menjadikan Gunung Salak sebagai salah satu alternatif baru selain destinasi populer di Ubud atau Tirta Empul.
Program revitalisasi ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh akademisi Universitas Triatma Mulya, Dr. Ni Ketut Dewi Irwanti, S.Psi., M.Erg, Ida Ayu Anggreni Suryaningsih, S.Par., M.Par, Desak Made Purnama Dewi, SST.Par.,M.Par, dengan dukungan pendanaan dari Kemendiktisaintek.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi nyata dalam pengembangan desa wisata.
Dukungan penuh juga datang dari Perbekel Desa Gunung Salak, I Wayan Wija, yang menegaskan bahwa pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi sekaligus sarana pelestarian budaya desa.










