Memanfaatkan celah waktu di tengah segudang aktivitasnya, penciptaan Tari Kul-Kul memakan waktu lima bulan. "Tari Kul-Kul ini mengandung filosofi yang tinggi, terutama filosofi bambu itu sendiri," jelas Tirka Widanti.
Jika dihubungkan dalam pelestarian bumi secara global, kata dia, bambu sangat penting karena merupakan bahan ramah lingkungan.
Di Bali sendiri, hingga hari ini, bambu masih digunakan sebagai alat kehidupan sehari-hari, seperti perkakas, rumah, kandang ternak sampai alat komunikasi berupa kul-kul. (Gde)










