Dilanjutkan dengan Mupuk Pedagingan, yaitu prosesi menanamkan panca datu (lima jenis logam) sebagai simbol memohon kekuatan dan kehidupan pada bangunan suci.
Puncak dari prosesi awal ini adalah Pasupati Ida Pelawatan, di mana pratima atau benda-benda sakral yang menjadi pelawatan (representasi) Ida Bhatara diberikan kekuatan spiritual melalui permohonan kepada Sang Hyang Pasupati.
"Pemilihan hari Tumpek Landep sangatlah tepat, karena esensinya adalah untuk menajamkan pikiran dan menyucikan segala 'senjata' dalam hidup, termasuk Ida Pelawatan sebagai 'senjata' spiritual kita untuk memohon anugerah dan perlindungan," jelas Anak Agung Kompiang Ariana.
Upacara ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Karya Mamungkah Ngenteg Linggih yang lebih besar, sebuah upacara besar untuk menetapkan atau mengukuhkan kembali kedudukan Ida Bhatara di pelinggih.
Rangkaian karya agung ini menandakan adanya pembaruan, baik secara fisik bangunan maupun secara spiritual, di Pemerajan Agung Sakti Padangsambian.
Anak Agung Kompiang Ariana menaruh harapan besar pada pelaksanaan upacara ini. Ia berharap, momentum spiritual ini dapat menjadi perekat yang menjaga keharmonisan dan persatuan di internal keluarga besar Lanang Dawan.
"Harapan kami, melalui penyelenggaraan upacara suci ini, seluruh keluarga besar trah Lanang Dawan senantiasa diberikan kerahayuan, dan ikatan kekeluargaan semakin erat. Lebih dari itu, semoga upacara ini juga dapat memancarkan energi positif dan keharmonisan bagi masyarakat di lingkungan Desa Adat Padangsambian pada umumnya," kata dia.










