Terkait kekuatan, Astariani mengaku semen ramah lingkungan temuannya ini hampir setara dengan semen di pasaran. Ini berdasarkan hasil penelitian yang menghabiskan bahan baku hingga empat truk. Bahan berupa serbuk batu pipih itu didatangkan langsung dari Industri pemecah batu.
Dr. Ir. Ni Kadek Astariani, ST., MT., IPM. bersama keluarga.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, proses pembuatan semen geopolimer ini diawali dengan menyaring serbuk batu menggunakan saringan ukuran 200 sehingga menghasilkan butiran super halus seperti semen.
Kemudian, bahan utama yang mengandung senyawa kimia silika dan alumina ditambahkan dengan natrium silikat dan natrium hidroksida sebagai aktivator. "Dengan dosis tertentu, cara seperti ini sudah menghasilkan semen," jelas dia.
Wanita yang juga Sekretaris Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Bali ini, berharap hasil penelitiannya bermanfaat bagi masyarakat luas sehingga mengurangi ketergantungan pada semen konvensional.
Ke depan, Astariani tidak menutup kemungkinan penemuannya ini bakal produksi secara massal. "Hingga kini kami terus lakukan pematangan. Yang penting kan ada dua, pertama ramah lingkungan dan bahan bakunya menggunakan limbah," katanya. (Gde)











