Ditegaskannya, kritis bersifat membangun ini menjadi sangat penting guna mewujudkan upaya penanganan yang komprehensif dan maksimal. Apalagu kritis harus dilakukan secara obyektif sesuai fungsi media sebagai kontrol sosial.
“ Kebijakan pemerintah harus tetap di evaluasi, dan ini tugas media. Tidak semua orang bisa dikritisi dan bahkan memandang itu fitnah. Kritis wajib, dengan tetap memperhatikan kode etik jurnalistik,” pungkasnya.
Ia menghimbau kepada media untuk lebih selektif memilih dan menentukan narasumber. Sebaiknya, narasumber yang diwawancara dan dikutip pernyataanya adalah narasumber utama dan paham akan akar masalah.
"Sering kali memilih narasumber yang keliru dan pemilihan kutipan yang sekedar mencari isu bombastis justru menimbulkan keresahan di masyarakat. Memilih narasumber menjadi penting, agar memberikan pencerahan, bukan justru perpecahan,” pungkasnya. (hen)










