Pada kesempatan yang sama, Kepala LLDikti VIII Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN. Eng., APEC., Eng., menjelaskan, di usia ke 42 tahun ini, menjadi momentum seluruh PTS di Bali-NTB untuk melahirkan generasi-generasi unggul menyongsong Indonesia Emas tahun 2045.
Permendikbud No 53 tahun 2023, menurutnya, meyakinkan kembali penjaminan mutu dan akreditasi perguruan tinggi melalui Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau MBKM. Ia menilai MBKM salah satu cara ampuh melahirkan manusia unggul.

“Saat ini masyarakat menunggu bagaimana kinerja perguruan tinggi dengan dunia industri. Kualitas dan relevansi menjadi kunci. Ke depan, tidak lagi melihat ijazah tapi sekali lagi kompetensi,” jelas Eratodi.
Demikian pula soal status perguruan tinggi atau swasta akan menjadi hal nomor dua. Sebab, yang dilihat adalah akreditasi program studi dan institusinya.
Ia melanjutkan, PTS di Bali-NTB sangat sehat. Akhir Maret 2024 mendatang, LLDikti VIII menarget seluruh PTS terakreditasi institusi, sehingga LLDikti VIII menjadi pionir dibandingkan LLDikti lainnya di tanah air.
Meski demikian, LLDikti VIII masih memiliki tantangan soal kekurangan jumlah guru besar atau profesor. Saat ini terdata 0,9 persen dosen dengan jabatan guru besar.
Padahal untuk mencapai kategori unggul membutuhkan 2 persen dosen dengan jabatan fungsional guru besar. Sedangkan untuk dosen lektor kepala, pihaknya sudah melampaui target di atas 5 persen. Untuk itu ia memotivasi semua dosen yang sudah memenuhi syarat agar segera berproses ke guru besar.










