Acara ini juga menyoroti peran penting Komunitas Sorghum Indonesia, yang telah berkontribusi besar dalam pengembangan dan promosi sorghum di Buleleng. Upaya mereka, bersama dengan Badan Pangan Nasional, telah meletakkan dasar yang kuat untuk pelaksanaan gerakan ini dengan sukses.
Buleleng Development Festival 2024 terus menjadi wadah untuk merayakan kebanggaan daerah dan mempromosikan praktik pangan berkelanjutan, dengan sorghum sebagai simbol warisan pertanian Buleleng dan komitmen terhadap masa depan yang lebih sehat.
Sementara itu, Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Dr. Andriko Notosusanto mengatakan melalui slogan yang kini tengah digencarkan, yaitu ‘Kenyang Gak Harus Nasi’.Slogan ini mengedepankan gagasan bahwa sumber pangan tidak terbatas pada nasi atau beras, melainkan ada banyak bahan pangan lain yang secara nutrisi juga mampu menyehatkan tubuh.”Salah satu alternatif yang diangkat adalah sorghum dan singkong. Bahan pangan ini bisa menjadi pilihan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang tanpa harus bergantung pada nasi. Sorghum, misalnya, dapat diolah menjadi berbagai menu masakan yang lezat dan bergizi, dengan kandungan nutrisi yang tidak kalah, bahkan dalam beberapa aspek lebih baik daripada beras. Selain itu, sorghum juga dikenal lebih tahan terhadap perubahan iklim dan memerlukan lebih sedikit air dibandingkan padi,”jelas Andriko.
Konsep ini mengajarkan bahwa dalam setiap hidangan, kita perlu mengombinasikan berbagai kelompok bahan pangan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral untuk mencapai gizi seimbang. "Isi piring seharusnya terdiri dari sepertiga karbohidrat, sepertiga sayur, seperenam lauk, dan seperenam buah. Pola makan yang beragam dan seimbang ini tidak hanya membantu menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga mendukung kecerdasan dan perkembangan otak," tambahnya.










