Selain pariwisata alam dan budaya, Bali sejatinya memiliki potensi lain yakni pariwisata medis yang sejak beberapa tahun lalu mulai dikembangkan. Di masa pandemi seperti sekarang di mana wisatawan khususnya domestik tak bisa bepergian ke luar negeri, menjadi saat yang tepat untuk menggaungkan kembali pariwisata medis.
Putu Deddy Suhartawan, General Manager Indonesia Medical Tourism Board (IMTB) Wilayah Bali-Nusa Tenggara mengatakan, Bali memiliki potensi besar sebagai destinasi pariwisata medis karena memiliki hospitality atau budaya ramah-tamah yang menjadi kelebihan bila dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.
“Pariwisata Bali identik dengan hospitality, potensi ini sangat bagus dalam mengembangkan pariwisata medis, selain rumah sakit-rumah sakit yang memiliki standar internasional yang telah ada di Bali, seperti Kasih Ibu Hospital Group, Bali Royal Hospital (BROS), BIMC Nusa Dua, Siloam Bali dan beberapa rumah sakit lain” ujarnya
Hal yang perlu dibangun untuk mengembangkan pariwisata medis di Bali menurutnya adalah kolaborasi, dalam hal ini kerjasama antar rumah sakit sehingga tidak terkesan berjalan sendiri-sendiri. Peran pemerintah juga sangat penting untuk mendukung pariwisata medis dengan membuat program dan regulasi yang bermuara pada kolaborasi yang baik antar lembaga kesehatan, termasuk dengan hotel-hotel yang di Bali.
“Sederhana begini, wisatawan yang sedang berlibur di Bali saat sakit atau mengalami kecelakaan menjadi tahu ke mana mesti berobat. Selama ini mereka mencari informasi sendiri yang kadang tak akurat. Jadi perlu ada sebuah wadah bersama untuk menjembatani kebutuhan akan pelayanan medis dan para wisatawan,” katanya.










