Sementara, istri almarhum Ni Gusti Nyoman Pramesti mengungkapkan, almarhum sudah bekerja selama 15 tahun sebagai ABK, terakhir berangkat pada 29 November 2020.
“Tadi malam tumben saya mendapatkan Video call dari dokter yang merawat, setelah saya buka saya ditunjukan suami saya sudah meninggal. Sudah saya tidak kuat,” ungkapnya saat ditemui di rumah duka, Selasa (21/4/2020).
Ibu dua anak ini menceritakan suaminya sudah sakit sejak ( 22/3/2020) setelah main voli bersama temannya. Selanjutnya, (31/3/2020) suaminya menghubungi lagi bahwa dirinya sudah masuk rumah sakit. “Itulah saya terakhir kontak dengan suami saya. Tapi,informasi dari dokter yang merawat hampir setiap hari. Akhirnya tanggal 4 april pihak dokter menghubungi lagi, suami saya kritis. Meminta persetujuan memasang alat di paru-paru, karena kondisinya sudah kritis. Kami keluarga menyetujui,” tuturnya.
Terkait sakit yang diderita almarhum, Pramesti mengaku diberitahu salah satu perawat yang kebetulan berkewarganegaraan Indonesia, bahwa suaminya dinyatakan positif Covid-19). “Dokter tidak berani mengatakan, permintaan suami saya. Sabtu (18/4/2020), sempat diberitahu kondisi suami saya membaik. Tapi keesokan kembali dikabarkan kondisinya kritis dan harus cuci darah. Sampai akhirnya tadi malam saya diinformasikan suami saya sudah meninggal dunia,” terangnya.
Sementara, pihak keluarga akan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah mengenai perlakuan terhadap jenazah almarhum. “Kami dari pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Kami mengerti dengan kondisi ini, jadi kami tidak ada menuntut apa-apa. Kami sepenuhnya mengikuti kebijakan negara,” imbuh paman almarhum, I Nyoman Nasib.










