DENPASAR-fajarbali.com | PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat pertumbuhan konsumsi listrik Bali pada Semester I 2026 mencapai 8,02 persen sekaligus menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatknya aktivitas ekonomi, pariwisata, dan sektor usaha di Pulau Dewata.
Mengantisipasi tren tersebut, PT PLN (Persero) terus memperkuat keandalan sistem kelistrikan sekaligus menyiapkan tambahan pasokan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID), Bali Ajrun Karim mengatakan pertumbuhan konsumsi listrik Bali menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Pertumbuhan tersebut juga tercermin dari pola beban listrik yang relatif tinggi dan merata sepanjang hari.
“Pertumbuhan listriknya melampaui pertumbuhan ekonomi. Bisa disimpulkan bahwa listrik sudah masuk ke semua simpul-simpul kehidupan. Listrik menjadi salah satu instrumen dasar kehidupan. Ketika kebutuhan listrik terus bergerak, itu menunjukkan roda ekonomi juga terus berputar,” ujar Ajrun dalam Temu Media PLN UID Bali di Denpasar, Kamis (20/8/2026).
Ajrun menjelaskan, saat ini beban puncak tertinggi sistem kelistrikan Bali telah mencapai hampir 1.300 MW, sehingga PLN tengah melakukan percepatan penambahan kapasitas pembangkit guna mendukung aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa listrik semakin menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi. Karena itu, keandalan pasokan menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan kegiatan masyarakat dan dunia usaha dapat terus berjalan,” katanya.
Saat ini, PLN tengah mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperkuat ketahanan energi Bali. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu sumber energi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Selain relatif cepat dibangun, PLTS dapat diterapkan melalui berbagai skema, mulai dari PLTS ground mounted, PLTS terapung di waduk atau bendungan, hingga PLTS atap. Pengembangan PLTS tersebut sejalan dengan RUPTL 2025–2034 serta Program PLTS 100 gigawatt GW Presiden RI.
“PLTS menjadi salah satu tumpuan utama karena pembangunan yang paling mudah dan cepat adalah PLTS, sesuai RUPTL 2025-2034 dan program nasional PLTS 100 GW. Harapannya dengan pengembangan pembangkit energi terbarukan, Bali nantinya dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya,” ujarnya.
Upaya memperkuat kemandirian energi tersebut menjadi semakin penting seiring dengan posisi Bali sebagai salah satu pusat pariwisata dan ekonomi nasional. Keandalan listrik tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menopang hotel, restoran, pusat perdagangan, fasilitas publik, industri kreatif, hingga berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
“Kami berharap listrik tidak digunakan hanya sebagai media penerangan, lebih jauh, listrik digunakan sebagai penggerak ekonomi mikro maupun makro, penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Ajrun. [rel/gde]










