Sementara itu, Supartika menilai tema yang diangkat masih didominasi unsur mistik, lontar, serta upaya memasukkan tema Atma Kerthi–Udiana Purnaning Jiwa secara terpaksa.
“Sebagian terasa menggurui dan penuh petuah. Tapi ada juga yang mengejutkan, misalnya menjadikan botol plastik sebagai tokoh utama. Ada pula yang mengangkat latar sejarah 1965 di Bali hingga luar negeri,” paparnya.
Dari segi alur, mayoritas cerita masih bergerak linear dari awal hingga akhir tanpa eksplorasi struktur naratif. Banyak karya juga terasa seperti satua Bali, belum berani keluar dari pola yang sudah umum.
Adapun pemenang lomba cerpen Bali tahun ini adalah:
Juara I: Mangmung Langit Bukarés karya I Gede Aries Pidrawan
Juara II: Medal Medil karya Kadek Wahyu Ardi Putra
Juara III: Kasasar di Suungé karya Pande Putu Abdi Jaya Prawira
Lonjakan peserta menjadi catatan positif. Namun fenomena penggunaan AI menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas dan keaslian karya sastra Bali ke depan.










