Pesan Menohok Dekan ke Lulusan FBS UPMI: Jangan Berhenti Berpikir!

IMG-20250812-WA0000
Dekan FBS UPMI Bali Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., melepas calon sarjana/magister.

DENPASAR-fajarbali.com | Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali menggelar Yudisium/Pelepasan Calon Sarjana ke-XLIX dan Magister ke-II, di Auditorium Redha Gunawan, Kampus UPMI, Denpasar, Senin (11/8/2025). 

Ketua Panitia Pelepasan, Dr. Ni Luh Gede Liswahyuningsih, SS., M.Hum., mengungkapkan, pelepasan periode kali ini diikuti 86 calon wisudawan, terdiri dari 14 calon wisudawan Magister (Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia) serta 72 calon wisudawan Sarjana.

Untuk sarjana berasal dari 24 orang Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, 40 orang Prodi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik dan 8 orang Prodi Pendidikan Seni Rupa.

Capaian Akademik

Terkait Capaian Akademik mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia (Magister): IPK rata-rata 3,72; IPK tertinggi 3,99, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah: IPK rata-rata 3,40; IPK tertinggi 3,95, Prodi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik: IPK rata-rata 3,67; IPK tertinggi 3,90, Prodi Pendidikan Seni Rupa: IPK rata-rata 3,5; IPK tertinggi 3,92.

"Rata-rata masa studi Program Magister 2,5 tahun, dan Program Sarjana 4 tahun. Mereka akan diwisuda pada 25 Agustus 2025 mendatang," jelas Liswahyuningsih.

"Semoga ilmu yang diperoleh menjadi bekal berharga untuk melangkah ke masa depan dan pelepasan ini menjadi awal yang baik bagi para lulusan untuk meraih kesuksesan di tahapan kehidupan selanjutnya," harapnya.

Bukan Berhenti Berpikir

Dekan FBS UPMI Bali Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., mengatakan, yudisium dan pelepasan adalah forum resmi untuk menetapkan kelulusan mahasiswa yang telah menuntaskan proses pendidikan secara utuh dan sah. 

"Inilah momen peneguhan—bahwa Saudara sekalian dinyatakan lulus dan layak menyandang gelar akademik demikian wisuda, hanyalah pertanda Saudara telah menyelesaikan studi, berhenti bersekolah secara formal, tetapi bukan berhenti belajar, bukan berhenti berpikir, bukan berhenti berkreasi," pesan dekan. 

BACA JUGA:  Bersaing dengan 75 Tim dari 25 Negara, Dua Wakil Smansa Denpasar Rebut Dua Medali di Jepang

Justru, menurut Sujaya, ini adalah awal untuk memulai sebuah perjalanan baru yang jauh lebih menantang karena lulusannya akan memasuki kampus kehidupan nyata yang jauh lebih kompleks dan penuh onak duri. 

Terobosan: Lulus Tidak Harus dengan Skripsi/Tesis

Pelepasan periode ini, masih kata Sujaya, memiliki sejumlah keistimewaan selain IPK yang cukup membanggakan tadi. Pertama, untuk pertama kalinya FBS UPMI Bali meluluskan mahasiswa program sarjana yang menyelesaikan studinya dengan tugas akhir nonskripsi. 

Dua orang calon wisudawan di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah (PBID) menyelesaikan studinya dengan tugas akhir proyek inovatif karya sastra dan jurnalistik, sedangkan tiga calon wisudawan di Prodi Pendidikan Seni Rupa menyelesaikan studinya dengan tugas akhir proyek inovatif seni rupa. 

Ia berpandangan, tugas akhir nonskripsi ini merupakan implementasi dari Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi yang menegaskan bahwa Program studi pada program sarjana atau sarjana terapan memastikan ketercapaian kompetensi lulusan melalui pemberian tugas akhir yang dapat berbentuk skripsi, prototipe, proyek, atau bentuk tugas akhir lainnya yang sejenis baik secara individu maupun berkelompok. 

Permendikbudristek tersebut diterjemahkan oleh UPMI dengan mengeluarkan Keputusan Rektor UPMI Bali Nomor 0030/UPMI/I/2025 tentang Ketentuan Tugas Akhir Program Sarjana dan Program Magister Universitas PGRI Mahadewa Indonesia yang menetapkan bentuk tugas akhir mahasiswa program sarjana dan program magister meliputi tesis, skripsi, prototipe, proyek, publikasi ilmiah, penyetaraan prestasi kejuaraan karya tulis ilmiah/nonkarya tulis ilmiah, dan bentuk tugas akhir lainnya. 

Sesuai dengan karakteristik dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) di masing-masing prodi, ditetapkan bentuk tugas akhir di FBS UPMI Bali meliputi tesis, skripsi, prototipe, proyek inovatif sastra/jurnalistik, proyek inovatif seni pertunjukan, proyek inovatif seni rupa, publikasi ilmiah serta penyetaraan prestasi kejuaraan karya tulis ilmiah/nonkarya tulis ilmiah. 

BACA JUGA:  Madyapadma Trisma Ingatkan Keindahan Bali Selain Pariwisata

Tugas akhir nontesis maupun nonskripsi sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Bahkan, sebelum keluar Permendikbudristek Nomor 53/2023, sejumlah kampus di Indonesia sudah menerapkannya, antara lain UPI Bandung, UM Malang, Universitas Brawijaya, UNY, dan Unesa.

Kini, setelah keluarnya Permen tersebut, sebagian besar kampus di Indonesia telah mengadopsi tugas akhir yang lebih beragam. 

Hal ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kompetensi dan prestasi mereka melalui berbagai bentuk karya nyata yang berdampak langsung pada masyarakat atau dunia kerja. 

"Ini adalah terobosan. Sebuah babak baru dalam sistem pendidikan tinggi yang lebih fleksibel, lebih relevan, dan lebih berorientasi pada masa depan. Tentu saja, inovasi ini tidak mengurangi kualitas akademik, justru memperkaya cara kita menilai kecakapan dan kontribusi lulusan," imbuhnya.

Sujaya melanjutkan, UPMI patut berbangga, untuk tugas akhir karya inovatif karya sastra/jurnalistik, kita termasuk yang pertama di Bali. 

Moto Baru FBS 

Selain itu, keistimewaan pelepasan kali ini juga ditandai oleh peluncuran tagline atau moto FBS UPMI Bali, yakni kritis, kreatif, dan humanis. Tiga kata kunci ini diambil dari karakteristik keilmuwan di FBS yang menekuni bahasa, sastra, seni, dan budaya.

Ia menjabarkan, Kritis berarti kemampuan berpikir logis, analitis, dan tajam untuk menilai informasi, ide, atau situasi secara objektif. Sikap kritis bukan sekadar mencari kesalahan, tetapi juga mempertanyakan asumsi, menguji bukti, dan menilai relevansi. 

Kreatif berarti kemampuan menciptakan ide, karya, atau solusi baru yang orisinal, imajinatif, dan bermanfaat. Kreativitas tidak hanya menghasilkan sesuatu yang unik, tetapi juga memadukan hal-hal lama menjadi bentuk baru yang relevan.

Humanis merupakan sikap yang menempatkan manusia, kemanusiaan, dan martabatnya sebagai pusat nilai. Humanisme mengedepankan empati, toleransi, penghargaan terhadap keragaman, serta keyakinan bahwa manusia mampu berkembang melalui pendidikan dan kebudayaan.

BACA JUGA:  DOSS Camera & Gadget Hadir di Bali

Dekan Sujaya juga menekankan pesan menohok, bahwa menjadi sarjana di bidang bahasa dan seni bukan sekadar soal ilmu, tapi tentang membangun jiwa, membangkitkan imajinasi, dan menyentuh kemanusiaan.

"Maka, kepada seluruh calon wisudawan FBS UPMI Bali ingatlah: Kalian mungkin tidak akan mengubah dunia sekaligus, tetapi kalian bisa menyalakan satu cahaya kecil—dalam ruang kelas, panggung seni, komunitas budaya, atau dalam tulisan yang menyentuh hati. Itulah tugas mulia seorang sarjana pendidikan bahasa dan seni," pesannya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top