Pasalnya, kata Desak, setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing yang tak terlepas dari kearifan lokal. Misalnya di Bali, terdapat istilah KB ala Bali dengan empat anak agar nama Ketut, sebagai identitas anak keempat tidak punah.
Kearifan lokal Bali itu pun, diselaraskan dengan mengutamakan kualitas keluarga. Demikian pula tentang desa adat yang masih terjaga di Bali. Sehingga salah satu strategi BKKBN Bali membangun sinergi dengan lembaga-lembaga adat.
"Tak lupa kami sampaikan bahwa kerja sama kami dengan awak media, baik cetak, tv, radio dan online sangat baik. Kami terus berkolaborasi di setiap kegiatan," kata Desak.
Tujuannya agar KIE dalam hal inovasi hingga penurunan stunting tercapai, selain untuk memperkuat Program Bangga Kencana.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Sarles Brabar menyampaikan keterbukaan menerima kunjungan. Dia menuturkan, di tahun 2023 ini sudah menerima 7 kunjungan ke BKKBN Bali.
“Keunggulan di Bali terendah angka stunting di Indonesia. Kota Denpasar paling rendah dibandingkan lainnya,” ungkapnya.
Pihaknya juga mengaku belajar di Bali. Karena di daerah asalnya Papua, angka stunting tinggi. Sarles menyampaikan terkait program KB Bali, dan tidak lagi menyampaikan program dua anak cukup.
“Kami berinovasi dengan menyampaikan program keluarga berkualitas, terutama 1000 hari pertama kehidupan, hingga dua tahun jarak kelahiran,” kata Sarles memungkasi. (Gde)










