Perluas Pasar, Perumda MGS Badung Jalin Kerjasama dengan Food Station Jakarta

1000541202
Perumda Pasar dan Pangan MGS menandatangani kerjasama dengan PT. Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta, Kamis (5/2) di RMU Mengwi.

MANGUPURA-Fajarbali.com | Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) menjalin kerjasama dengan PT. Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta. Penandatanganan kerjasama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta ini dilakukan, Kamis (5/2) di Rice Milling Unit (RMU), Perumda Pasar dan Pangan MGS, Mengwi, Badung. Kerja sama ini dilakukan untuk menampung surplus produksi beras di Badung sekaligus memperkuat rantai pasok pangan di Bali.

 

Direktur Umum Perumda Pasar dan Pangan MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha mengatakan, kerjasama ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang ada di Bali utamanya beras serta memperluas jangkauan pasar. “Banyak hal yang bisa kita kolaborasikan. Selain beras, mungkin ada minyak, mungkin ada ayam, mungkin ada gula atau kebutuhan pangan yang lainnya,” terangnya usai acara. 

 

Menurutnya, Food Station merupakan BUMD yang cukup besar yang ada di Indonesia. Bahkan omsetnya sudah triliunan. Food Station merupakan BUMD yang sudah berpengalaman dalam pengelolaan pangan apalagi dengan kondisi Jakarta yang tidak punya lahan, tetapi menguasai standar market seluruh Indonesia terutama untuk toko-toko jejaring. 

 

“Food Station punya market di Bali, jadi kami di Badung yang akan memenuhi market tersebut. Sementara, kebutuhan market di Bali mencapai 500 ton untuk beras per bulan. Jika sudah dikerjasamakan mungkin nanti bisa lebih dari itu,” jelasnya. 

 

Saat ini, jika beroperasi penuh secara maksimal, RMU Perumda MGS bisa menghasilkan 600 ton beras per bulan. Namun, saat ini belum beroperasi secara maksimal. “Mungkin nanti bertahaplah. Mungkin 2 shift dulu, nanti berkembang lagi. Harapan kami ya bisa 24 jam full,” katanya. 

 

Ia menambahkan, tahap awal penyerapan ditargetkan sekitar 500 ton per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan pasokan gabah sekitar 1.000 ton per bulan dari petani Badung dan wilayah sekitarnya. "Sementara mencukupi, karena sementara kita mau coba 500 ton per bulan, kebutuhannya 1000 ton gabah per bulan, itu kondisi memang surplus," ucapnya.

BACA JUGA:  Rakor Penjabaran Visi-Misi, Program Bupati dan Wakil Bupati Badung

 

Sementara itu, Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, melihat Bali sebagai pasar potensial karena kebutuhan beras masih tinggi. Selama ini pasokan sebagian masih dipenuhi dari luar daerah. "Saat ini kan kita ada penjualan senilai kurang lebih 1 sampai 2 miliar per bulan itu bukan hanya beras tapi juga ada gula juga," ujarnya.

 

Ia menambahkan, berdasarkan data kebutuhan pangan, Bali masih mengalami kekurangan pasokan beras. "Kalau dari kebutuhan saya baca di BPS itu kan 500 ribu ton per tahun ya di Bali. Nah selama ini kan disuplai dari daerah luar dari Jawa Timur kemudian NTB," katanya.

 

Kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan penjualan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Food Station juga melihat Badung sebagai lokasi strategis karena memiliki pasar besar dari sektor hotel, restoran, dan katering. “Kenapa memilih Badung, karena Badung ini kan marketnya memang besar kemudian hotel banyak di sini," ucapnya.

 

Ke depan, pihaknya berharap kolaborasi antar-BUMD ini mampu menjaga stabilitas harga gabah, memperluas penyerapan hasil panen petani, serta memastikan kebutuhan pangan Bali tetap terpenuhi secara berkelanjutan.W-004

 

 

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top