Selanjutnya, Green Infrastructure Project Financing Specialist dari WRI, M. Haiqal Rizaldi menekankan pentingnya kaum muda memahami analisis dan identifikasi kebijakan untuk memformulasi rekomendasi kebijakan. "Penyusunan kebijakan yang tepat perlu didasarkan pada prinsip inklusivitas dan keberlanjutan. Setiap langkah yang diambil harus memastikan bahwa tidak ada satupun pihak yang tertinggal, termasuk kaum muda. Kaum muda perlu memahami bagaimana mengidentifikasi dan menganalisis masalah (dalam konteks kebijakan energi), agar kaum muda pun dapat menawarkan solusi konkret berdasarkan telaah keilmuan yang dapat diadopsi oleh pembuat kebijakan,” ujarnya.
Manajer Analisis Kebijakan New Energy Nexus Indonesia, Enda Grimonia menyampaikan pentingnya keterlibatan kaum dalam pembuatan kebijakan. "Masa depan transisi energi Indonesia ada di tangan kaum muda. Dengan membekali mereka pengetahuan untuk mempengaruhi kebijakan, kita tidak hanya berinvestasi dalam masa depan mereka, tetapi juga dalam masa depan bumi kita,” ungkapnya.
Bagi NEX Indonesia, berkolaborasi dengan berbagai mitra di Bali menjadi instrumen penting dalam menjalankan berbagai inisiatif iklim yang dipimpin oleh komunitas dan kaum muda. NEX berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa LSPR, Society of Renewable Energy Universitas Udayana, UKM Kewirausahaan Universitas Pendidikan Nasional, dan Social Project Bali. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali sangat penting untuk memastikan efektivitas program.
Yudi, salah satu kaum muda menyampaikan antusiasnya mengikuti lokakarya. Ia mengatakan, bahwa kegiatan ini menarik sekali untuk bisa mengetahui landscape regulasi net zero emission di Bali, bisa bertemu dengan peserta-peserta yang suportif dan dari latar belakang yang beragam. “Dengan adanya acara ini, kami jadi mengetahui informasi terbaru sektor climate di Bali, baik dari praktisi maupun regulator," katanya.










