Pentas Perdana, Tari “Joged Luwih”, Pukau Sivitas Perguruan Tinggi dari Dalam dan Luar Negeri

LUWIHsatu
Pementasan perdana Tari Joged Luwih karya Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, M.M,. M.Hum., sebagai ‘welcome dance’ International Guest Lecture oleh Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai, berhasil memukau sivitas perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri, Senin (9/12/2024).

Dalam beberapa kasus, sambung dia, tarian Joged viral sering kali mendapat kritik karena dianggap terlalu vulgar, kehilangan makna filosofis, atau sekadar mengejar popularitas tanpa menghormati akar budayanya.

Joged Luwih” merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang dapat diterjemahkan secara harfiah menjadi “Tarian yang lebih baik” atau “Tarian yang lebih tinggi”. Dalam konteks budaya Jawa, “Joged Luwih” sering merujuk pada tarian atau gerak yang tidak hanya indah secara estetika tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur, spiritual, atau pesan moral tertentu.

Hal ini pula yang di harapkan oleh Tirka Widanti, sebagai Penginisiasi Joged Luwih, agar tarian joged yang merupakan kebudayaan asli dari masyarakat Bali dapat tetap di leastarikan sebagai warisan budaya yang luhur, memiliki nilai spiritual dan pesan moral yang baik.

Konsep “Joged Luwih” menurutnya merupakan jawaban untuk mengembalikan seni Tari joged itu sendiri:

  1. Mengembalikan Nilai Budaya, Joged Luwih dapat menjadi upaya untuk mengembalikan tarian pada esensi aslinya, yakni sebagai medium seni yang sarat dengan nilai budaya dan spiritual. Tarian ini tidak hanya mengutamakan gerakan indah, tetapi juga membawa pesan moral, harmoni, dan penghormatan terhadap tradisi.
  2. Meningkatkan Standar Kualitas Seni, Joged Luwih bisa menjadi representasi tarian dengan standar estetika yang lebih tinggi, melibatkan latihan intensif, penghayatan mendalam, dan perpaduan antara teknik seni dengan makna filosofis.
  3. Menghadirkan Alternatif yang Positif, Alih-alih hanya mengkritik, Joged Luwih menjadi alternatif nyata yang menunjukkan bahwa seni tari dapat tetap populer dan menarik tanpa harus mengorbankan nilai-nilai luhur. Ini bisa diangkat disosialisasi kan melalui platform media sosial untuk melawan pengaruh negatif dari tarian viral yang kontroversial.
  4. Mengedukasi Generasi Muda, Joged Luwih dapat digunakan sebagai sarana edukasi bagi generasi muda, mengajarkan pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus tetap relevan dengan perkembangan zaman. Joged Luwih tidak hanya menjadi bentuk seni tari yang lebih bermakna, tetapi juga jawaban atas kegelisahan masyarakat terhadap perkembangan seni tari joged yang kurang menghargai akar tradisi dan moralitas.
BACA JUGA:  “Aji Pemalik Sumpah” Persembahan Sekaa Arja Sudhamala: Kejutan dari Klungkung

Bahkan dalam sambutannya, Tirka Widanti saat melaunching Tarian Jodeh Luwih juga menyatakan dengan bangga memperkenalkan peluncuran Joged Luwih, sebuah interpretasi modern dari tari Joged tradisional Bali.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top