"Untuk dapat mengurangi dampak atas peristiwa banjir di Kecamatan Denpasar Barat, maka diperlukan upaya penurunan debit dan volume limpasan akibat hujan," imbuh dia.
Ia berpendapat, metode yang digunakan harus sesuai dengan keadaan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, salah satu kegiatan atau upaya pemerintah adalah dengan cara melakukan penerapan metode konservasi yang antara lain dengan cara pemanfaatan air hujan dengan ketentuan seperti yang tertuang dalam Peraturan Wali Kota Denpasar Nomor 18 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Air Hujan.
Pemanfaatan air hujan yang tujuan utamanya untuk meminimalisir jumlah limpasan yang berlebihan, secara tidak langsung juga dapat menurunkan debit banjir.
Hal ini, lanjut Tri, dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas infiltrasi di daerah aliran sungai (DAS). Sumur resapan adalah pilihan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas infiltrasi di DAS.
Lebih lanjut, jelas Tri, metode analisis yang digunakan pada penelitiannya adalah deskriptif kuantitatif. "Analisis dilakukan untuk menghitung dan mendeskripsikan efektivitas sumur resapan dalam mengurangi risiko banjir yang terjadi di Kecamatan Denpasar Barat," jelasnya.
Sebelumnya, tim peneliti telah melakukan review hasil penelitian terdahulu, utamanya terkait dengan keterbatasan data spasial dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan akurat dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan tujuan untuk memodelkan sistem sumur resapan.
Terkait dengan masalah tersebut maka dipandang perlu untuk dilakukan penelitian terkait dengan penerapan SIG dalam perencanaan sumur resapan yang direncanakan dengan memetakan DAS yang masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Denpasar Barat sehingga nantinya dapat menghasilkan alternatif metode konservasi sebagai upaya pengendalian banjir di Kecamatan Denpasar Barat. (Gde)










