Pendampingan Pembuatan Penek dan Tumpeng secara Tradisional sebagai Bahan Upakara

tumpeng

Menurutnya, pengetahuan ini penting juga untuk diketahui terutama mengenai penek dan tumpeng. Diajabarkannya, proses pembuatan penek dan tumpeng ini diawali dengan mencuci beras dengan bersih, dilanjutkan merendam beras selama 30 menit.

Setelah beras mengembang ditiriskan airnya dan mulai mengukus dengan panci atau dandang pengukus selama 15 -20 menit. Selagi menunggu beras matang, pada Waskom disiapkan kanji yang dicampur dengan air  sambil diaduk-aduk sampai rata dan ditambah dengan air panas ke dalam adonan kanji tadi yang fungsinya sebagai perekat.

Setelah beras matang menjadi aru, aru itu dicampur ke adonan kanji sambil diaduk-aduk sampai merata.Adonan sudah rata maka siap untuk dicetak dengan cetakan penek dan tumpeng. Penek dan tumpeng dalam kegiatan keagamaan Hindu di Bali sangat diperlukan karena setiap hari dalam praktik keagaamaan Hindu sarana penek dan tumpeng itu digunakan.

Sesuai referensi yang ia baca [Yuda Triguna], pihaknya menjelaskan tumpeng mempunyai makna sebagai berikut:

Tumpeng sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur: sebagai rasa syukur tumpeng sering dibuat dalam acara-acara penting seperti selamatan, ulang tahun dan upacara adat lainnya. Dalam hal ini tumpeng dilambangkan sebagai rasa syukur kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi atas kelimpahan rezeki yang telah diterima oleh umat manusia.

*Simbol Kosmologi: dilihat dari bentuknya tumpeng berbentuk kerucut yang melambangkan gunung atau puncak, yang dalam budaya Jawa dan Bali gunung dianggap sebagai tempat yang suci, tempat stananya para dewa dan dari tempat yang tinggi ini memudahkan para dewa melihat ciptaannya. Hal ini merepresentasikan bahwa hubungan manusia dengan alam dan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top