Birokrat asal Tabanan ini menambahkan, 70 persen kasus stunting dipicu faktor tidak langsung, seperti pola asuh, ekonomi, pendidikan dan sanitasi. Sisanya lagi adalah faktor langsung berupa faktor gizi.
Sehingga dr. Luh De mewanti-wanti meminta remaja memerhatikan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Sebisa mungkin ia menyarankan agar meminimalisir mengonsumsi makan instan.
Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana mendukung kegiatan yang menyasar remaja ini. Sebab, berdasarkan pantauannya di lapangan, ada sebuah desa di Buleleng yang 24 bayi terindikasi stunting.
"Setelah saya dalami, sebagian besar anak stunting itu dilahirkan dari orangtua yang nikah dini. Entah kecelakaan atau gimana," jelas Kariyasa.
Efek negatif pernikahan dini, lanjut Kariyasa, adalah ketidaksiapan mental. Ini akan berakibat sering cekcok dengan pasangan sehingga anak tidak terurus, selain organ reproduksi yang belum siap pula.
Ia pun mengingatkan, BKKBN sebagai mitra Komisi IX untuk bekerja keras mencapai target pemerintah menurunkan stunting menjadi 14 persen secara nasional yang saat ini masih 24,4 persen. Angka yang parah menurut Kariyasa.
Sedangkan di Bali, ditargetkan mendekati zero stunting. Legislator asal Busungbiu, Buleleng ini merasa optimis Bali akan mencapai target. Contohnya di Gianyar, sudah berhasil mencapai 5 persen. Gianyar pun menjadi kabupaten dengan prevalensi stunting terendah di Provinsi Bali. (Gde)










