Henny mengungkapkan, ada sejumlah permasalahan yang dihadapi selama ini, di antaranya, belum terintegrasi dengan memanfaatkan kelompok dukungan sosial yang sudah ada (STT, Pecalang, PKK. PAKIS) sebagai potensi besar kesehatan untuk PTM.
Kedua, masih tingginya kunjungan PTM dengan kasus hipertensi dan diabetes mellitus. Ketiga, penanganan PTM perlu kegiatan komprehensif (obat, terapi komplementer senam kaki DM, aktifitas olahraga, lingkungan, diet).
Sehingga perlu pendekatan komprehensif (petugas kesehatan, penderita PTM, keluarga. Kader, pelibatan kelompok organisasi sosial yang ada) dengan support system secara utuh kearifan local Bali seperti STT, PKK, pecalang, pakis dan sebagainya.
Senam kaki dengan delapan gerakan, diklaim efektif menurunkan kadar gula darah jika dilakukan rutin 30 menit per hari setiap tiga kali seminggu. "Hasil risetnya sudah ada," ungkap Henny.
Gerakan sederhana ini, menggunakan selembar koran pada bagian akhir. Kedua kaki digunakan untuk merobek lembaran koran, lalu melipatnya kembali.
"Terapi komplementer senam kaki DM, berfungsi utk memperlancar sirkulasi darah pada bagian kaki. Sehingga diharapkan kelompok sosial kearifan lokal bali bisa mengajarkan senam kaki kepada keluarga dan pasien DM di rumah," jelasnya.
Kepala Puskesmas Kuta Utara dr. Putu Wilantika, MPH., menyambut baik kolaborasi ini untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
Menurutnya, terapi dan diet/mengatur pola makan sangat penting sebagai upaya prepentif agar mengurangi ketergantungan pada obat-obatan.










