Pedagang Liar Bermobil Kumuhkan Kota Ubud

GIANYAR-fajarbali.com | Adanya proyek Pasar Ubud, menyebabkan seluruh pedagang dipindahkan sementara ke tempat yang ditawarkan Pemkab Gianyar. Walau demikian, sebagian pedagang masih ada yang jualan di gang-gang, atau trotoar yang dinilai layak berjualan. Kondisi ini menyebabkan Ubud sebagai kota bersih menjadi kota macet. 

 
Disayangkan juga, pedagang bermobil ikut rebutan ambil tempat bahkan di tempat-tempat strategis, sehingga menambah semrawut kota Ubud. Kondisi ini menyebabkan predikat kota Ubud sebagai kota bersih dan nyaman bisa hilang. Salah satu pedagang sepuh di Pasar Ubud,  Wayan Roja (65), menyebutkan melihat pusat kota yang resem/kumuh ini seakan ada pembiaran.  Kondisi ini  malah dinilai sangat kontradiktif dengan gambaran tentang Ubud yang selama ini. “Ubud adalah kota  terbaik yang disematkan oleh para traveler dunia. Alangkah malunya  jika wisatawan melihat kondisi Ubud sekarang ini. Sangat malu kita jika  wisatawannya  komplin dengan kekumuhan ini,” ungkapnya.
 
Setelah dua tahun mati suri lantaran Covid-19, warga dan para pengusaha di Ubud, kini mulai ada harapan baru. Namun sayang, kekumuhan Ubud kini justru semakin melebar. Tidak hanya lantaran Kondisi proyek renovasi pasar yang konon berganti kontraktor hingga ada pemasangan police line. Disebutkan pagi ada luberan pedagang pagi, yang merupakan pecahan pedagang Pasar Ubud ditambah pedagang pendatang baru  mendominasi berjejer dari Simpang Arjuna Peliatan  menuju Catus Pata Ubud terlihat seperti pasar Tumpah. Belum lagi luberan pedagang di Jalan Suweta, Jalan Kajeng serta sudut-sudut lainnya. 
 
Sementara siang hari, keberadaan pedagang sembako dan  kebutuhan sehari-hari ini digantikan oleh pedagang seni dan kerajinan yang lagi-lagi memilih tempat berjualan secara liar. “Diperparah lagi dengan dagang bermobil yang menambah lengkap Ubud ini menjadi resem seperti sekarang ini,” keluhnya. Roja mengaku warga Ubud tidak bisa berbuat banyak. Karena penataan ataupun  penertiban adalah kewenangan dari Pemkab Gianyar. Untuk itu, sembari proyek renovasi Pasar Ubud ini berproses, ketertiban, keasrian serta kenyamanan kawasan Ubud tetap terjaga. “Aktivitas wisata kini mulai berdenyut.  Namun jika Ubud dalam kondisi sekarang, apakah Ubud akan masih menjadi salah satu Kota Terbaik dunia!,” sanksinya.
 
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Gianyar, IB Gaga Adisaputra sangat  menyayangkan  terjadinya masalah pemutusan Kontrak kerja atas revitalisasi Pasar Ubud. “Saya tidak dalam posisi menyalahkan pihak manapun, namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa ada hal yang tidak beres, dan itu patut menjadi pelajaran berharga bagi semua,” jelas Gus Gaga. Diharapkan, masalah tersebut segera dicarikan penyelesaian, agar pedagang bisa segera berjualan. 
 
  1. Ditambah lagi, kini para pedagang pasar yang kini harus berpencar menjadi pihak paling dirugikan jika Revitalisasi Pasar itu tidak terselesaikan sebagaimana mestinya. “Ubud berturut-turut meraih predikat Kota Wisata terbaik Dunia, tentu  menjadi tidak elok jika di jantung kota Ubud ini ada proyek yg bermasalah, apalagi sampai mangkrak.sar

Next Post

Penyelesaian Kasus Pencabutan Penjor dengan Prajuru Desa Adat, Buntu

Kam Agu 4 , 2022
GIANYAR-fajarbali.com |Upaya damai atas kasus warga dengan Desa Adat Taro Kelod menemui jalan buntu. Mediasi perdamaian di Mapolres Klungkung dipimpin Kasat Binmas, AKP Gede Endrawan, Kamis (4/8/2022). Hadir pihak warga adat Mangku Ketut Warka bersama kuasa hukum dan sejumlah prajuru Desa Adat Taro.    Usai mediasi, putra Mangku Ketut Warka, […]
IMG_20220804_172450-d8ae7ba2
BPD BALI