“Perusahaan tersebut membukukan laba sebesar $0,16 per saham, yang kembali
melampaui estimasi konsensus sebesar $0,14 per saham. Memanfaatkan momentum AI,
perusahaan turut menaikkan proyeksinya untuk pendapatan setahun penuh menjadi $4,15
miliar, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar $3,90 miliar,” lanjutnya.
Terlepas dari pesimisme yang ada karena kenaikan harga saham yang dirasa sudah terlalu
tinggi, potensi berlanjutnya pertumbuhan laba perusahaan masih cukup terbuka dengan
outlook positif teknologi AI serta kontrak bisnis Palantir dengan pemerintah AS. Saham
Palantir naik 4,14% pada hari Senin, diperdagangkan pada harga $160,66, dan naik lagi
4,57% setelah penutupan pasar, menyusul pengumuman pendapatan perusahaan.
Potensi Bullish Pasar Crypto
Potensi dapat berlanjutnya tren bullish di pasar kripto masih terlihat dengan melemahnya
tekanan jual dan preferensi investor untuk tidak melepas Bitcoin yang dimiliki.
“Indikator NUPL yang merepresentasikan agregat laba atau rugi di seluruh pemegang
Bitcoin dan sering digunakan sebagai indikator sentimen (misalnya, nilai di atas ~0,75
menandakan euforia, di bawah nol menandakan kapitulasi) saat ini menunjukkan angka
0,54. Secara historis, level ini seringkali diikuti oleh kenaikan harga lanjutan -baik secara
langsung maupun tidak- hingga indikator menyentuh atau mendekati area “Euphoria” di
sekitar 0,75 sebelum terjadi fase bearish,” kata Fahmi.
Jika data inflasi CPI AS yang akan dirilis pada 12 Agustus ini menunjukkan peningkatan
yang tidak terlalu tinggi, atau bahkan lebih baik dari ekspektasi seperti misalnya 0,1%
secara bulanan, besar kemungkinan reli di instrumen yang cukup berisiko seperti saham
dan kripto dapat berlanjut.
“Di kondisi saat ini, investor dapat memposisikan portofolionya untuk menyambut potensi
bullish jangka menengah-panjang dengan tetap memperhatikan potensi koreksi dan
meningkatnya volatilitas jangka pendek. Investor dapat menyeimbangkan risiko dengan
mendiversifikasikan aset sesuai dengan profil risiko yang dimiliki. Dalam mendiversifikasi
aset tersebut, investor bisa memanfaatkan fitur Packs yang tersedia di Reku dalam sekali
swipe. Terlebih, fitur Packs yang dilengkapi dengan sistem Rebalancing akan membantu
investor menyesuaikan alokasi investasinya sesuai dengan kondisi pasar secara otomatis.
Dengan begitu, strategi diversifikasi yang dilakukan dapat lebih mudah, praktis, dan optimal”
pungkasnya. (rls)










