Terlepas dari dunia pariwisata yang masih 'sakit', GSD mengingatkan, sumber daya manusia Bali wajib bertransformasi ke dunia digital. Ini tidak bisa dihindari jika ingin mempertahankan eksistensi.
Pasalnya, kata dia, pekerjaan lama akan hilang tergilas oleh digitalisasi. Hal ini berlaku untuk semua profesi. "Contohnya wartawan. Dengan adanya media sosial, semua orang bisa menjadi 'wartawan', mengabarkan peristiwa ke khalayak. Begitu juga dosen dan profesi lain," jelas GSD.
Pria yang juga mengantongi Rekor MURI sebagai Rektor Termuda di usia 36 tahun ini mengaku tidak bermaksud menakut-nakuti. Justru, bagi mereka yang adaptif, dunia digital menjanjikan kesejahteraan lebih mudah dan praktis. Pundi-pundi rupiah akan mengalir secara otomatis ke rekeing yang bersangkutan jika tahu caranya.
Sekarang ada sistem Non-Fungible Token
(NFT). Ini adalah aset digital yang berbentuk karya seni maupun barang koleksi yang bisa dipergunakan untuk membeli sesuatu secara virtual. Barang seni dan koleksi bisa berupa foto, gambar, lagu, rekaman suara, video, game, dan sebagainya.
NFT memiliki beberapa keungulan. Salah satunya terkait tingkat keasliannya. Konsep NFT memungkinkan pembeli memiliki barang asli tanpa ada yang bisa menirunya. Tidak hanya itu, NFT juga menyertakan bukti kepemilikan dalam bentuk sertifikasi.
Sebagai akademisi bidang ekonomi, GSD mengaku telah menggaungkan digitalisasi dalam setiap kesempatan sejak 2008 silam. Sayangnya, kala itu sebagian besar mengabaikan, dan terbukti sekarang tak sedikit yang 'kepupungan' hijrah dari konvensional ke dunia digital. "Memang tidak ada kata terlambat," jelasnya. (Gde)










