Uji adaptasi simultan dilakukan di tiga titik mewakili karakteristik Buleleng. Di Desa Alasangker (tengah), Buleleng Kota, dan Giri Emas (timur). Melandrat menyebut kolaborasi peneliti, petani, dan dinas provinsi krusial dalam merancang varietas yang memberi pilihan baru bagi petani ini. Dukungan pemerintah tidak berhenti pada produksi.”Kami akan dampingi petani memastikan irigasi lancar, alat mesin pertanian (alsintan) tersedia, dan RMU beroperasi optimal. Hilirisasi adalah tantangan terberat. Produksi melimpah tak berarti jika tanpa kemampuan olah gabah local,”sebutnya.
Kehadiran Semeton Buleleng diharapkan melengkapi, bukan bersaing negatif, dengan varietas eksisting seperti Inpari 32 (unggul di musim hujan) atau Cierang (tahan kekeringan). Benih ini akan didistribusikan melalui unit usaha seperti Perumda Swantara atau koperasi untuk memperkuat ekosistem perbenihan lokal. Momentum ini menjadi pendahulu rencana peluncuran varietas jagung unggulan Buleleng pada 11 Agustus 2025 mendatang. Semua upaya ini menegaskan komitmen daerah menjadikan sektor pertanian sebagai lumbung pangan dan penggerak ekonomi berdaulat. @gus










