"Beberapa hari lalu saya juga bagikan buku di beberapa SD Kota Denpasar lewat pak kepala dinas. Sebelumnya di Buleleng, tapi dalam bentuk beasiswa karena kondisi daerah beda-beda," ungkapnya.
AA Gde Agung juga menyinggung perjuangannya dan tim untuk meng-goalkan RUU tentang Bahasa Daerah/Nusantara menjadi Undang-undang, karena di sana mengakomodir kepentingan semua daerah, tak terkecuali bahasa Bali.
Jika sudah disahkan, maka keberadaan bahasa daerah akan ajeg karena di dalamnya akan mengatur juga formasi pengangkatan guru bahasa daerah.
Kepala SDN 5 Mengwitani Made Suciani, menyambut baik kehadiran AA Gde Agung dan pemberian kado spesial berupa buku. Hal ini bagai gayung bersambut di tengah upayanya menggencarkan peningkatan literasi.
"Semangat membaca buku harus digaungkan lagi agar anak-anak mengurangi aktivitas negatif sejak dini. Kami hanya bisa menghaturkan terima kasih kepada Ratu Cokorda (AA Gde Agung)," kata Suciani.

Perbekel Mengwitani, diwakili Sekdes Made Muriana mengutarakan hal senanda. Muriana berharap, kehadiran tokoh-tokoh pengubah peradaban dunia dalam bentuk buku itu, mampu mengubah mindset anak-anak dari awalnya mengidolakan tokoh dalam film kartun ke tokoh nyata.
"Anak-anak berhenti mengidolakan tokoh kartun. Sekarang kalian bisa baca tokoh-tokoh manusia nyata agar kalian termotivasi," kata Muriana didampingi Kelian Dinas Banjar Jumpayah Dewa Nyoman Mertayasa.
I Putu Bayu Prama Putra, kelas IV dan adiknya I Kadek Raditiya Angga Putra, kelas I, tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kakak beradik penyandang disabilitas itu memilih buku masing-masing untuk dibawa pulang dengan status pinjam sementara.










