Dengan berpedoman pada kedua sumber tentang hari suci yang bersamaan ini maka bisa kita ambil landasan pemikiran yaitu tumpek wariga sebagai pemujaan untuk kebaikan tumbuhan untuk menyambut hari suci Galungan dan Nyepi sebagai pemujaan tiga kekuatan alam untuk melakukan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. Kontek Tri Murti ini adalah refleksi, reinkarnasi dan penguatan kesadaran kesemestaan hidup. Bahwa yang terlahirkan akan terpelihara hidupnya dan akan Kembali setelah selesai kewajibannya.
Diawali dengan pemelastian, dimana Ida Bhatara bersuci ke sumber air, dalam hal ini sumber dari segala sumber air adalah laut, maka bersuci ke laut menjadi pedoman. Bahwa boleh melakukan pemelastian ke sumber air terdekat, itu adalah kesepakatan yang ada di masing-masing desa adat, dan tidak ada unsur kesalahan karena sumber air yang ada dilaut berproses menuju gunung dan kembali lagi ke laut sebagaimana yang kita pahami dalam siklus air atau siklus hidrologi.“Bukan tidak ada alasan kenapa kemudian kita mesti memaknai dalam bertemunya Hari Suci Nyepi dengan Tumpek Wariga. Sebab dalam kaidah hidup tidak ada istilah kebetulan, namun semua seolah sudah tergariskan sebagai hukum tetap (rta) yang tanpa bisa ditentang oleh apapun dan siapapun. Segala sesuatu dipertemukan oleh waktu dan berpesan luas agar kita lebih meyakini dan mengaplikasikan ajaran agama dengan baik. Melakukan dengan cara beritual sebagai wahana ketulusan dan keikhlasan, dan aplikasi nyatanya adalah bagaimana kita merawat, memelihara, mengembangkan untuk hasil yang lebih baik,”tutupnya. @gus










