Guna menggerakkan roda ekonomi kerakyatan, perhelatan ini merangkul sebanyak 105 UMKM terkurasi yang mencakup sektor kriya, kuliner olahan lokal, fesyen, hingga produk ekonomi kreatif unggulan. Ketua Panitia Bulfest 2026, Putu Ariadi Pribadi, yang mendampingi Bupati dalam jumpa pers menjelaskan bahwa keterlibatan sektor UMKM dan pegiat seni merupakan pilar utama festival.
“Kami membagi festival ke dalam tiga zona terpadu, mulai dari kawasan heritage tempo dulu, zona creative space anak muda, hingga zona budaya berkelanjutan. Seluruh lapak UMKM di zona sejarah didesain dengan estetika vintage agar selaras dengan narasi Buleleng masa lalu," ujar Ariadi.
Selain kebangkitan UMKM, panggung Bulfest 2026 juga akan dimeriahkan oleh lebih dari 60 kelompok kesenian daerah dan musik modern. Pementasan kolosal seperti Tari Trunajaya, Wiranjaya, dan Palawakya yang melibatkan ratusan penari dari berbagai sanggar lokal akan bersanding dengan penampilan atraksi gong kebyar legendaris, drama gong, hingga grup musik nasional seperti KLa Project, Dialog Dini Hari, Lolot, dan White Swan untuk menjangkau generasi muda.
Guna menjamin kenyamanan dan kelancaran selama enam hari penyelenggaraan, Pemkab Buleleng menerjunkan 200 personel keamanan gabungan TNI, Polri, Satpol PP, serta Pecalang setiap harinya. Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng bersama Polres dan Desa Adat Buleleng juga telah menyiapkan rekayasa lalu lintas serta tata kelola kantong parkir strategis. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Bulfest 2026 optimistis mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus mengukuhkan Singaraja sebagai pusat destinasi wisata sejarah dan budaya berkelas di Bali. @gus










