“Pencak silat ini salah satu simpul gerakan bela diri, bangsa, dan negara. Nah untuk di sini, Bapak Guru Made Yasa membentuk simpul itu di Sesetan ini. Dan kemudian, beliau dijadikan perbekel pertama di Sesetan,” akunya.

I Ketut Resmiyasa
Dalam praktiknya, lanjut Resmiyasa, Tujuh Sari tergolong sakral. Jurus-jurus tertentu bahkan dilakukan tersembunyi dengan ritual tertentu.
"Sebagai bagian budaya Bali, tentu ada proses ngaturang pejati, mapajaya-jaya dan ada sumpahnya. Ini tidak main-main. Saya bilang Tujuh Sari adalah sakral dan mahal," ungkap dia.
Di era kekinian, kata dia, pencak silat ini dikembangkan dan telah terdapat padepokan. Yakni untuk melatih silat sesuai dengan pakem, dan juga silat untuk meraih prestasi.
“Ini tidak boleh punah, para sepuh akan tetap melatih dengan teknik ‘permacan’ dengan judul Gatotkaca Seraya. Energi alam semesta masuk. Kami menolak punah,” tegas dia.
Kegiatan juga turut dihadiri Dewan Pendekar PPS Tujuh Sari Prof. Rahyuda. Ia menyampaikan terima kasih karena telah mampu membuat kegiatan bersejarah.
“Bangkitlah mulai hari untuk tujuan organisasi rahayu, rahajeng, dan santhi, untuk mewujudkan cita-cita dan mengikuti kebijakan leluhur, yakni melestarikan seni pencak silat,” ungkap Rahyuda.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Bali, Nyoman Yamadhiputra tidak ingin PPS Tujuh Sari bernasib sama dengan PPS Budi Utomo yang hilang ditelan bumi. Begitupun beberapa PPS lain yang kian suram generasi.
Karenanya, atlet berprestasi internasional ini mengusulkan revitalisasi di tubuh PPS Tujuh Sari. "Jangan seperti PPS Budi Utomo yang sekarang hilang. Mungkin sebagai pelajaran yang latihan 'secret' itu bisa kita tinjau lagi," sarannya.










